Sambil mengenakan kostum serba hitam dan mulut tertutup lakban, sekitar 30 jurnalis dari bebagai media di Gorontalo berjalan mundur sejauh satu kilometer dari gerbang kampus Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menuju bundaran saronde.

Jurnalis Gorontalo Jalan Mundur di Hari Kebebasan Pers

Gorontalo — Sambil mengenakan kostum serba hitam dan mulut tertutup lakban, sekitar 30 jurnalis dari bebagai media di Gorontalo berjalan mundur sejauh satu kilometer dari gerbang kampus Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menuju bundaran saronde.

Aksi yang dilakukan gabungan tiga organisasi pers yaitu Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Gorontalo adalah dalam rangka peringatan hari Kebebasan Pers Sedunia yang jatuh Jumat (3/5/13) hari ini.

Koordinator Aksi, Syam Terrajana, mengatakan aksi ini digelar di tengah keprihatinan para jurnalis akan mundurnya kebebasan pers di Gorontalo. Syam yang juga ketua AJI Gorontalo menjelaskan, dengan aksi ini diharapkan publik tidak lupa dengan kasus penyerangan yang menimpa kantor Mimoza TV pada September 2012 dan kantor TVRI Maret 2013 lalu.

“Pakaian hitam adalah simbol duka cita. Sementara jalan mundur adalah refleksi mundurnya tingkat kebebasan pers pada era reformasi,” ujar Syam.

Aksi berlangsung sekitar 30 menit. Aksi ini menarik perhatian para pengguna jalan sehingga lalu lintas di ruas Jalan Nani Wartabone yang dilalui pengunjuk rasa sempat tersendat-sendat. para pengunjuk rasa tidak melakukan orasi dan hanya membagi-bagikan selebaran.

Di akhir aksi, salah seorang jurnalis melakukan aksi tidur di jalan yang disertai pengumpulan kartu pers milik para pengunjuk rasa. Sekretaris IJTI Gorontalo, Arlan Pakaya kemudian membacakan empat tuntutan jurnalis Gorontalo di hari Kebebasan Pers Internasional, sebagai berikut:

1. Mendesak aparat hukum di Gorontalo agar segera mengadili para pelaku penyerangan kantor TVRI dan juga Mimoza TV

2. Mendesak agar segera mengadili pelaku kekerasan terhadap jurnalis TVRI, Iksan Nento, Farid Utina/Trans 7. Rully Lamus/Antv, Andri Arnold/Metro TV, dan Agus Limehu/Mimoza TV

3. Mengingatkan kepada publik dan pihak berwenang untuk ikut melindungi jurnalis dan menjaga jurnalisme dan jurnalis agar merdeka dari tekanan

4. Mengingatkan kepada publik untuk ikut mengontrol prilaku jurnalis dari media massa dan melaporkannya ke Dewan Pers jika menemukan jurnalis dan atau media massa yang melanggar kode etik.**
Bagikan: