x
WEBINAR MEMAJUKAN INKLUSI: ANALISIS LANSKAP ANAK PENYANDANG DISABILITAS DI INDONESIA

WEBINAR MEMAJUKAN INKLUSI: ANALISIS LANSKAP ANAK PENYANDANG DISABILITAS DI INDONESIA

Sebanyak 36 persen anak dengan disabilitas di Indonesia, tidak mengenyam pendidikan di sekolah. Temuan ini disampaikan dalam webinar bertajuk Memajukan Inklusi: Analisis Lanskap Anak Penyandang Disabilitas di Indonesia, Rabu 20 Desember 2023.

 

Dalam webinar yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan UNICEF, hadir sejumlah pembicara membahas tentang hasil riset berjudul "Analisis Lanskap Anak-anak dengan Disabilitas di Indonesia."

 

Aisyah Putri Mayangsari, Peneliti di SMERU Research Institute menyebut, sekitar 3,3 persen dari seluruh anak di Indonesia masuk dalam kelompok anak dengan disabilitas. "Semakin tinggi jenjang pendidikan, gap dengan anak tanpa disabilitas semakin tinggi," katanya menyebut risiko anak disabilitas putus sekolah lebih besar dibanding anak tanpa disabilitas, di jenjang pendidikan yang sama.

 

Temuan itu menjadi salah satu hasil dari riset yang digelar oleh UNICEF bersama BAPPENAS dan SMERU. Di sektor pendidikan, terdapat sekitar 32 ribu sekolah inklusif dibandingkan sekitar 2.250 sekolah khusus.

 

Sekolah inklusif ditemukan di 95 persen wilayah di Indonesia, namun ditemukan pula kekurangan tenaga bagi pelajar berkebutuhan khusus.

 

Anak dengan disabilitas intelektual, psikososial dan gangguan lain, mengalami kendala atas akses pendidikan yang lebih sulit, dibandingan dengan anak dengan disabilitas fisik.

 

Hasil lain, riset yang juga melibatkan studi literatur selain survei dan data dari lembaga terkait, menemukan jika 51 persen dari anak dengan disabilitas mengalami stunting, dibandingkan dengan 31 persen anak tanpa disabilitas.

 

Dalam hal sanitasi, hanya 9 persen sekolah khusus dilengkapi dengan fasilitas toilet yang mudah diakses anak dengan disabilitas.

 

Namun, kondisi itu masih lebih baik bila dibandingkan dengan sanitasi di fasilitas layanan kesehatan. Temuan ini menggambarkan kurangnya fasilitas bagi anak dengan disabilitas di layanan kesehatan secara umum.

 

Sebanyak 97 persen pusat kesehatan yang telah terakreditasi, tidak memenuhi standar aksesibilitas bagi anak dengan disabilitas.

 

Selain temuan di sektor pendidikan dan kesehatan, riset juga menunjukkan temuan di sektor perlindungan anak, dan juga kebijakan sosial.

 

Namun sejumlah catatan juga disampaikan pembicara, terkait sejumlah kendala ketika melangsungkan riset.

 

Aisyah menyebut adanya penggunaan bahasa tentang disabilitas yang tidak konsisten antar lembaga. Termasuk pula jumlah data anak dengan disabilitas yang berbeda antar lembaga. "Ini menghambat akses layanan anak dengan disabilitas," katanya.

 

Hal serupa juga dikeluhkan oleh Wachyu Winarsih, Statistisi Ahli Madya Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat dan Koordinator Fungsi Statistik Pendidikan dan Kesejahteraan Sosial. Menurutnya dibutuhkan sensus disabilitas menggunakan modul yang lebih akurat, sehingga datanya lebih komprehensif.

 

Sementara I Made Wikandana, Staf Inklusi Disabilitas UNICEF menekankan, pentingnya pendataan agar anak dengan disabilitas mendapatkan akses atas pendidikan dan kesehatan.

 

Sebelum pemaparan hasil, Ketua Umum AJI Indonesia Sasmito Madrim dalam sambutannya berharap, kolaborasi berbagai pihak mampu menemukan solusi, membantu anak dengan disabilitas secara kolektif.

 

"Dan bagi media, mari kita cari cara agar media dapat diakses oleh penyandang disabilitas. Ini merupakan sebuah tantangan dan kami berharap kedepannya kami dapat berkolaborasi dengan berbagai mitra termasuk organisasi masyarakat sipil, perusahaan teknologi sehingga setiap anak, setiap orang dengan atau tanpa disabilitas dapat mengaksesnya," katanya.

Sementara Iman Morooka, Kepala Komunikasi dan Advokasi Publik UNICEF Indonesia, dalam sambutannya juga menyampaikan harapan dan sikap optimis atas kolaborasi berbagai lembaga dalam menyediakan dukungan bagi anak dengan disabilitas.

 

"Mari kita melihat temuan-temuan dalam laporan ini sebagai sebuah lensa yang dapat kita gunakan untuk memahami kendala-kendala yang dihadapi oleh anak-anak ini dan secara kolaboratif berupaya mencari solusi yang tepat," imbuhnya.

 

Di saat yang sama, Iman juga menutup rangkaian webinar yang digelar AJI Indonesia bersama UNICEF, sepanjang 2023. "Atas nama UNICEF, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada AJI, mitra setia kami dalam advokasi media. Semoga kemitraan kita terus berkembang di tahun-tahun mendatang," pungkasnya.

 

Diskusi webinar dapat ditonton di YouTube AJI. Setelah menonton, kami mengundang Anda untuk berbagi pandangan dengan meninggalkan feedback di https://bit.ly/FEEDBACKWEBINAR5. Terima kasih atas partisipasi Anda!

Share