Penerapan Normal Baru (New Normal), Antisipasi Dampak Sosial dan Kesehatan Jiwa

8 Jun 2020 10:56 am

Aliansi Jurnalis Independen dengan dukungan dari UNESCO, menyelenggarakan diskusi online dengan tema "Penerapan Normal Baru (New Normal), Antisipasi Dampak Sosial dan Kesehatan Jiwa". Diskusi ini diharapkan memberi penjelasan bagaimana penerapan kriteria “Normal Baru”, dan bagaimana kebijakan yang tepat untuk menyiapkan masyarakat secara sosial dan kesehatan jiwa. 

Presiden Joko Widodo telah mengumumkan kebijakan baru dalam merespon pandemi Covid-19 yang disebut new normal atau normal baru pada akhir Mei lalu. Normal baru dimaknai bagaimana kehidupan masyarakat tetap berjalan dengan protokol-protokol kesehatan yang ketat. Ini sejalan dengan rekomendasi WHO yang menyebutkan Pandemi Covid-19 akan berjalan dalam jangka panjang dan masyarakat beradaptasi dengan hal ini.

Di Indonesia, status normal baru diberikan pada 102 kabupaten/kota yang dinilai memenuhi syarat, yaitu reproduction rate atau RO di bawah 1. Ketika sebuah daerah memiliki RO di bawah 1 maka diperbolehkan melakukan pelonggaran terbatas, seperti memperbolehkan rumah ibadah, tempat makan/restoran dibuka, bekerja dari kantor dengan aturan-aturan jaga jarak.

Penerapan normal baru akan menimbulkan beberapa perubahan yang berdampak pada kehidupan sosial masyarakat. Ilustrasi paling sederhana, misal sebuah restoran hanya diperbolehkan menerima tamu 50% dari kapasitasnya (menggunakan peraturan Gubernur Jakarta), dampaknya omzet restoran tersebut mungkin turun drastis yang kemudian berakibat pada pengurangan tenaga kerja. Contoh lainnya jika sekolah dibuka kembali, dengan protokol jaga jarak antar siswa di kelas, maka diperlukan penyesuaian jam belajar atau konsekuensinya perlu penambahan ruangan/gedung untuk pendidikan. Hal ini tentu membutuhkan antisipasi pemerintah maupun masyarakat.

Aliansi Jurnalis Independen dengan dukungan dari UNESCO, menyelenggarakan diskusi online dengan tema "Penerapan Normal Baru (New Normal), Antisipasi Dampak Sosial dan Kesehatan Jiwa". Diskusi ini diharapkan memberi penjelasan bagaimana penerapan kriteria “Normal Baru”, dan bagaimana kebijakan yang tepat untuk menyiapkan masyarakat secara sosial dan kesehatan jiwa. 

Materi disampaikan oleh Rini Sugiarti (Layanan Psikologi Sehat Jiwa - HIMPSI & Dekan Fakultas Psikologi Universitas Semarang), Puji Pujiono (Jaringan antar Jaringan OSM/LSM (S=JAJAR) & Pujiono Center), dan Wiku Adisasmito (Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 & Guru Besar Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia).

Diskusi Online New Normal Dampak Sosial Kesehatan Jiwa