Penghargaan Jurnalistik AJI-UNICEF Memberikan Perhatian Besar pada Isu Pernikahan Anak

14 Aug 2015 09:55 am | Oleh : Satrio Putra Yuganto

Hadir di diskusi ini Lenny N Rosalin, Deputi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Annisa Elok Budiyani (Unicef), Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed (Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah), Anggara Suwahju (Koalisi 18+).

Dalam diskusi panel itu, Eko Maryadi Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga yang juga menjabat sebagai President South East Asia Alliance (SEAPA) mengatakan saat ini media belum memberikan perhatian besar pada isu anak, terutama perkawinan usia anak. “Penghargaan ini adalah bentuk dorongan agar media memberikan tempat pada masalah-masalah anak,” katanya dalam diskusi yang berlansung di Ice Palace, Lotte Shopping Avenue, Rabu (12/8).

Anggara Suwahju dari Koalisi 18+ menjelaskan jumlah pernikahan usia anak Indonesia di ASEAN menempati posisi kedua setelah Kamboja dan menempati ranking 37 dunia. “Setidaknya satu dari lima anak menikah di bawah usia 18 tahun,” katanya.

Kondisi ini menyebabkan anak-anak rentan mengalami kekerasan. Kesulitan mendapatkan hak-haknya, seperti hak pendidikan. Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti mendorong perlu melakukan reintepretasi ajaran agama terkait pernikahan usia anak. Ia menegaskan pernikahan tidak sekedar reproduksi tapi juga regenerasi yang membutuhkan kematangan intelektual dan spiritual. “Apalagi perempuan adalah guru pertama bagi anak-anak mereka,” katanya.

 Sementara itu dalam pidato sambutan sebelum diskusi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak menegaskan banyak anak perempuan yang menikah di usia anak menjadi korban kekerasan. “Negara tidak akan mampu berkompetisi jika anak-anak kita tidak mendapatkan awal kehidupan yang baik,” katanya.

Sedangan Kepala Perwakilan Unicef Indonesia Gunilla Olsson mengatakan pengantin muda lebih berisiko untuk putus sekolah; hamil terlalu cepat, yang mengakibatkan sejumlah risiko kesehatan yang berbahaya bagi ibu dan bayinya.  Mereka terjebak kemiskinan yang kemudian diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. “Perkawinan anak terus menjadi beban di Indonesia,” ujar  Gunilla.

Penghargaan jurnalistik AJI-Unicef ketujuh kali ini memilih empat karya terbaik dari 318 peserta kategori cetak/ online, radio, foto dan televisi. Para pemenang mendapatkan studi triep ke Bangladesh dari Unicef dan rekening pulsa Rp 1.000.000 dari CIMB Niaga.

Setelah memilih 35 nominasi, inilah para pemenang karya jurnalistik terbaik tentang anak:

  1. Bayu Maitra, Majalah Reader’Digest Indonesia judul karya Perspektif Thomas untuk kategori cetak/online foto.
  2. Wendra Ajistyatama, The Jakarta Post – “Commute” untuk kategori fotografi.
  3. Purwoto, Radio Suara Pacitan – “Mereka Korban Nikah Dini” untuk kategori radio, dan
  4. Budi Santoso and Rebecca Henschke, Tempo TV – “Child Jockey”

 

Perhargaan ini terselenggara atas dukungan Unicef Indonesia, CIMB Niaga serta Lotte Shopping Avenue, Ciputra World, Kuningan, Jakarta.

Jakarta, 12 Agustus 2015

 

 

CP:

Y. Hesthi Murthi 087888839543

Ketua Bidang Perempuan dan Kelompok Marjinal AJI Indonesia