Kampanye Lawan Hoax, AJI Gelar Workshop dan Pentas Wayang Interaktif

Kampanye Lawan Hoax, AJI Gelar Workshop dan Pentas Wayang Interaktif
 
Mataram, 8 Juli 2017

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mataram mengelar kampanye lawan hoax, melalui Workshop Etik dan Profesionalisme Jurnalis dalam menghadapi hoax, serta pertunjukan wayang sasak interaktif. Pertunjukan wayang digelar di Kedai Jangkok, Ampenan, Jum'at malam (7/7), oleh Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) Sesela.
 
Sebelum pertunjukan wayang,  sepanjang hari Jum'at,  puluhan jurnalis anggota AJI Mataram mengikuti workshop Etik dan Profesionalisme Jurnalis menghadapi hoax.  Workshop yang merupakan kerjasana antara AJI Indonesia dan Australian Embassy Jakarta, dihadiri jurnalis senior Satrio Arismunandar, Mochamad Rudi Hartono dan Jupriadi Asmaradana. 

Para pemateri menyampaikan berbagai persoalan penting menyangkut penyikapan jurnalis terhadap wabah hoax yang meresahkan. Berbagai materi itu terkait penegakan etik, prinsip prinsip peliputan serta hukum pers: mengindari ranjau pidana dan perdata yang kerap mengintai jurnalis selama ini.
 
Workshop sehari itu berjalan cukup efektif, karena hampir semua materi mendapat respon dari peserta, yang banyak mengalami masalah dalam menjalankan tugas tugas peliputannya, termasuk derasnya serbuan hoax yang sudah sangat memprihatinkan.
 
Salah satu cara cerdas yang dilakukan jurnalis dalam menghadapi hoax adalah dengan meningkatkan profesionalisme, dan menjalankan kode etik jurnalistik (KEJ) dengan benar. “Jurnalis harus menjalankan etik dengan baik, karena menjadi dasar atau rambu dalam menjalani tugas tugasnya sebagai jurnalis, ini penting dan harus dijalankan, ditengah banyaknya informasi hoax saat ini” kata Muhammad Rudy Hartono.
 
Dia mengatakan jurnalis harus memiliki etik yang kuat dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, agar tidak mudah terpengaruh apalagi ikut berperan menyebarkan berita berita hoax.
 
Hal senada juga diungkapkan Satrio Arismunandar, jurnalis senior dan pendiri AJI Indonesia tahun 1994 silam, Satrio menekankan akan pentingnya jurnalis memahami dan menegakkan Elemen-elemen dasar jurnalistik. Elemen itu antara lain kewajiban pada kebenaran, loyalitas pada publik dan disiplin verifikasi. "Kebenaran jurnalstik tidak sama dengan kebenaran agama dan filosofis yang bersandar pada keyakinan,  tapi kebenaran jurnalistik itu berdasarkan atas fakta-fakta. " kata Satrio. 
 
Ditambahkannya juga bahwa belakangan ini warga bukan lagi sekedar konsumen pasif dari media, namun juga menciptakan media sendiri. Munculnya blog, jurnalisme online, jurnalisme warga (citizen journalism), jurnalisme komunitas dan media alternatif. “ ini juga bentuk dari perkembangan jurnalisme, dimana warga dapat menyumbangkan pemikiran mereka, opini, berita dan lainnya” kata Satrio.
 
Penegasan dalam workshop ini juga muncul bagaimana cara jurnalis menghindari ranjau pidana dan perdata dalam menjalankan tugas-tugasnya, ditengah beragam informasi yang muncul termasuk hoax.  Jupriadi Asmaradana, dari AJI Makasar menyebutkan bahwa untuk menghindari ranjau pidana dan perdata itu, jurnalis harus memahami Undang Undang Pers No 40/1999 dan Kode Etik Jurnalistik. "Sangat disayangkan bahkan jurnalis yang belum pernah membaca UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik, padahal mereka menjalankan kerja kerja jurnalistik, ini berbahaya jika jurnalis tidak pernah baca UU Pers dan Kode Etik. Jurnalis harus memahami UU yang melindungi kerja mereka” kata Jupriadi 
 
Selain menggelar workshop, AJI juga menggelar pagelaran wayang sasak anti hoax, oleh Sekolah pedalangan wayang Sasak (SPWS) Sesela,  yang digelar di pangung  sungai Jangkuk Ampenan.  Dalam pertunjukan wayang interaktif yang berlangsung selama dua jam, dalang muda Bayu Windia, menyebutkan betapa jahatnya hoax atau informasi bohong menghantui kehidupan masyarakat, termasuk masyarakat di Lombok Nusa Tenggara Barat. “banyak informasi bohong berbau fitnah yang diterima begitu saja oleh masyarakat, karena itu kita harus hati hati” katanya lewat dialog Amaq Baoq (panakawan) yang dimainkannya dengan penuh homor.
 
Pertunjukan Wayang Anti hoax itu ditonton puluhan jurnalis NTB, Jurnalis senior Satrio Arismunandar, Pengurus AJI Indonesia, Jupriadi Asmaradana, dan M. Rudi Hartono, Juru Bicara Polres Mataram, AKP Made Aranawa dan Kepala Dinas Komunikasi, Informasi, dan Statistik (Diskominfotik) NTB, Tri Budi Prayitno, aktivis lingkungan dan para seniman muda di Kota Mataram.
 
Wayang Interaktif kali ini mengajak jurnalis senior, aparat kepolisian dan pihak pemerintah untuk berdialog dengan para panakawan, seperti Amaq Baok, Amaq Kesek dan Sam Butak terkait hoax yang kian membingungkan masyarakat. 

Usai berdialog dengan wayang, jika beruntung mereka bakal mendapatkan wayang dari sampah plastik bergambar wajah mereka. 
 
Juru Bicara Polres Kota Mataram, AKP Made Arnawa, yang juga didaulat berdialog dengan wayang meminta para jurnalis membantu aparat kepolisian, dalam upaya menangkal hoax, dia mengatakan Jurnalis juga harus awas dan tidak turut menyebarkan berita bohong. “kami berharap jurnalis tetap mencari tahu sumber informasi yang mereka peroleh, baru mereka menyebarkannya, agar hoax ini tidak meluas dan menganggu ketertiban umum” katanya.
 
Penonton mengapresiasi wayang anti hoax yang digelar SPWS Sesela bekerjasama dengan AJI dan Australian Embassy  itu, mereka berharap dapat digelar di lokasi yang lebih luas dan bisa ditontot masyarakat, agar informasi bahaya hoax ini tersosialisasi. “kami sih maunya  wayang yang bisa bicara langusng dengan pejabat, bisa digelar lagi, agar lebih seru dan membuat kami makin faham bahaya berita bohong ini” kata Akmal salah seorang penonton.


Bagikan: