Workshop Safety of Journalist di Manado ajak Jurnalis Bangun Jaringan Advokasi

Sebanyak 15 anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengikuti Workshop Safety of Journalist di Manado, Sabtu - Minggu (28-29/10/2017). Selama dua hari, peserta digembleng soal karakteristik kekerasan terhadap jurnalis dan penanganannya.

Ketua AJI Manado, Yoseph Ikanubun saat membuka kegiatan mengatakan kekerasan terhadap jurnalis di Manado masih terus menjadi ancaman dari tahun ke tahun. Meski dalam lima tahun terakhir tidak ada kekerasan berarti yang dialami wartawan, pasca terbunuhnya wartawan harian Metro, Aryono Linggotu.

“Tapi yang terjadi di Manado adalah persnya malah yang belum bebas karena lebih banyak terkungkung pada pemilik modal, politik dan pemerintahan,” ujarnya.

Di hari pertama, fasilitator Aryo Wisanggeni memaparkan AJI fokus kepada advokasi kekerasan terhadap jurnalis karena lahir disaat adanya kekerasan yang dilakukan oleh penguasa negeri ini terhadap media. “AJI lahir saat Soeharto membredel tiga media yaitu Tempo, Detik dan Tabloid, dimana saat wartawannya mewakili hak warga untuk mendapatkan informasi melalui medianya masing-masing,” kata Aryo.

Dikatakannya, ada beberapa faktor pemicu kekerasan terhadap jurnalis seperti pemberitaan yang kritis dan mengancam penguasa, berada di lokasi terjadinya tindak pidana atau pelanggaran HAM. Pemberitaan yang tidak profesional, tidak netral dan ketersinggungan terhadap berita juga menjadi alasan karena tidak paham dengan kode etik jurnalis.

“Kita tidak mengadvokasi jurnalis, tetapi mengakvokasi jurnalis yang melakukan kerja-kerja jurnalistik dan karya jurnalistik yang dihasilkan,” terangnya.

“Satu-satunya alasan untuk menjadi wartawan adalah karena bisa berbuat baik dengan karya jurnalistik kita,” tutup Aryo.

Sesi berikutnya, Victor Mambor mengupas tuntas materi membangun kapasitas advokasi AJI Kota Nonlitigasi. Dia berharap anggota AJI dapat membangun jaringan advokasi dengan kelembagaan sevisi di wilayah AJI Kota dan membuka jaringan dengan advokad setempat.

Jupriadi Asmaradhana menutup workshop hari pertama dengan materi perumusan strategi advokasi. Ada beberapa contoh strategi ketika mengadvokasi jurnalis yang terjerat hukum yaitu dengan cara melakukan kampanye, safe house, alert, rilis pers dan memainkan peran sosial media, unjuk rasa dan membuat petisi.

Hari kedua workshop, peserta yang berasal dari Manado, Ternate, Gorontalo, Mandar dan Makassar dimatangkan dengan materi penanganan kasus kekerasan (Litigasi) melalui video dokumenter kriminalisasi wartawan Metro TV Jupriadi Asmaradhana oleh Kapolda Sulsel di tahun 2008 silam. Strategi pengawalan proses hukum dengan memainkan jejaring udara membuat kasus yang dihadapi terkawal dengan baik hingga ke pengadilan.

Peserta juga digembleng oleh Ninin Damayanti dari Mafindo/opini.co.id, agar bisa menyembunyikan atau melindungi data dan informasi agar tidak dapat diakses baik dengan cara fisik atau elektronik oleh orang lain. “Bila data dan informasi tidak dilindungi, maka bisa diakses oleh orang yang tidak bertanggungjawab dan mengambil keuntungan,” ucap Ninin.

Workshop Safety of Journalist ini digagas oleh IFC pada awal tahun 2016, yang mencatat 107 orang jurnalis terbunuh di berbagai belahan dunia dengan 90 persen diantaranya adalah lokal jurnalis. Hal ini mengindikasikan adanya krisis terhadap keamanan dan perlindungan jurnalis yang masih lemah.

Sejak Juni 2016 hingga Desember 2017, IMS dan IFJ (the International Federation of Journalists) sedang mengumpulkan berbagai model yang menjadi best practice dalam safety of journalist (keamanan bagi jurnalis) di berbagai wilayah seperti Colombia, Philippines, Pakistan, Indonesia, Irak, Afganistan, dan Nepal. Hasilnya akan digunakan sebagai bagian dari studi penelitian global yang ditujukan untuk memberikan informasi kepada praktisi media lokal, pemangku kebijakan, dan organisasi pengembangan media yang bekerja untuk memperbaiki keamanan bagi jurnalis di tujuh negara tersebut dan juga negara lainnya.
 
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang mempunyai visi yang sama dalam memberikan advokasi kepada jurnalis, kemudian  bekerjasama dengan IMS dan IFJ (the International Federation of Journalists) dengan menyelenggarakan training mengenai Safety of Journalist.