Training Google News Initiative Ajak Jurnalis Kendari untuk Verifikasi Informasi

KENDARI - Aliansi Juarnalis Independen (AJI) Indonesia bekerjasama dengan Google News Initiative dan Internews menyelenggarakan Google News Initiative Training Network bagi para jurnalis di Plaza Inn Hotel Kendari, Sulawesi Tenggara, 21-22 Juli 2018.

Sebanyak 27 jurnalis dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara dilatih untuk memanfaatkan berbagai tools yang ada di internet untuk mengidentifikasi dan memverifikasi berbagai informasi yang beredar di dunia maya.

Ketua AJI Kendari, Zainal Ishaq menjelaskan, saat ini, tidak hanya masyarakat yang seringkali terjebak dalam pusaran hoaks. Dalam beberapa kasus, jurnalis bahkan ikut berperan jika tidak memiliki pengetahuan terkait informasi yang beredar tersebut.

“Melalui pelatihan ini, semoga dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para jurnalis yang ada di Kendari. Ada berbagai jenis tools yang tersedia di internet yang sangat bermanfaat bila digunakan dalam kerja jurnalistik,” ujar Zainal.

Zainal menambahkan, saat ini hoaks bisa dilakukan dengan sangat baik sehingga sulit dibedakan. Untuk itu, jurnalis saat ini penting untuk memiliki kemampuan lebih agar meminimalisir semakin beredarnya hoaks di masyarakat.

“Di sinilah pentingnya verifikasi. Baik itu kepada sumber langsung atau menggunakan tools yang ada di internet”.

Trainer Google News Initiative Rahmat Hardiansyah mengatakan, orang bisa percaya dengan hoax dan berita sesat karena tidak melakukan verifikasi tentang kebenaran informasi. Padahal verifikasi penting dilakukan dengan banyaknya informasi hoax saat ini. Salah satu verifikasinya dengan cara mengenali situs berita palsu.

“Kita gak boleh telan mentah-mentah saja berita atau informasi itu. Sebagai jurnalis kita mesti memverifikasi kebenaran data. Sehingga tidak ikut menyebar dan memperluas hoaks di masyarakat,” jelas Hardiansyah.

Sebelumnya, pada Jumat 20 Juli 2018, AJI Kendari juga menggelar workshop setengah hari di Gedung Islamic Centre Universitas Muhammadiyah Kendari bertajuk “Hoax Busting and Digital Hygiene” kepada mahasiswa/i dan masyarakat umum.