AJI-DW Academie Gelar Interfaith Training Journalist di Ambon

AJIIndonesia, Ambon - DW Academie German yang bekerjasama dengan Alinasi Jurnalis Independen (AJI) melaksanakan kegiatan  Workshop Keimanan Dan Media dengan Thema “ Sebuah Dialog Antar Agama Bagi Jurnalis Indonesia” yang berlokasi di Santika Hotel (SH) Primier Kota.

Sebanyak 25 Jurnalis media cetak, elektronik dan online dari Kota Ambon, Makassar, Lombok, Bali serta Jakarta ikut dalam kegiatan tersebut.

Ancha Beuer DW Academie menegaskan fakta pemberitaan beberapa media massa tentang topik agama masih belum objektif. Fakta pemberitaan menjadi penting, namun harus didukung dengan verifikasi narasumber, keberimbangan, akurasi dan validasi informasi terhadap seatu peristiwa. "Munculnya pemberitaan yang tanpa melakukan prinsip-prinsip jurnalis yang baik akan berdampak terhadap pembaca terutama menyangkut dengan topik sensitif seperti agama,” tegas ... , trainer internasional DW Akademi saat menyampaikan materi dalam workshop tersebut.

Pembicara M. Yani Kubangun mengatakan prinsip  independen ketika jurnalis menjadi point penting dalam peliputan dan penulisan pemberitaan, namun, bagi M Yani Kubungan, Wakil Pimpinan Redaksi Ambon Ekspress menegaskan, di Kota Ambon, saat penulisan berita-berita konflik saat ini atau issu-issu agama yang sensitive, harus ada startegi menampilkan fakta yang tidak memicu ketegangan dan konflik yang terjadi. Pasalanya, Ambon memiliki pengalaman atas masalalu yang pahit.

Sebagai seorang jurnalis senior di Maluku, Yani mengaku, terlibat dalam peliputan konflik Maluku dari tahun 2000-2006. Sehingga banyak hal yang telah dipelajari dalam dimensi konflik tersebut, salah satunya bagaimana menyikapi pemanfaatan media untuk kepentingan politik kelompok tertentu. 

“Ambon Ekspress saat konflik 2011 memilih mengambil strategi untuk melakukan sensor pemberitaan termasuk tidak terbit, karena kami menilai peristiwa konflik diterbitkan bisa memicu ketegangan ditengah masyarakat,” tutur Yani. Keputusan tidak terbit didasari dengan alasan yang penting untuk melokasir konflik. 

Hesthi Murthi, Direktur Eksekutif AJI Indonesia mengatakan pelatihan ini diselenggarakan untuk membekali jurnalis skill melakukan peliputan konfilik. "Pemahaman jurnalis terhadap akar malakah konflik menjadi penting agat tidak menghasilkan peliputan yang bias dan sebaliknya menghasilkan liputan-liputan yang mendorong perdamaian dan kehidupan yang lebih baik bagi semua pihak," katanya.

Pelatihan bertemakan jurnalis dan keimanan di Ambon telah diadakan AJI bersama DW disejumlah daerah sebelumnya seperti di Bandung, Palembang, Pontianak, Manado dan Ambon.
Melalui pelatihan itu peserta mendapatkan kesempatan untuk, Memperluas pengetahuan tentang dasar konstitusi, politik dan sosial pluralisme beragama di Indonesia dan tantangan yang muncul dari ekstremisme agama menjelang pemilihan presiden 2019 mendatang. 

Memahami standar dan etika profesional dari jurnalisme sensitivitas konflik dan tak bias.
Mengembangkan kemampuan dalam hal mencari fakta dan mengembangkan cerita untuk menghasilkan karya jurnalistik yang profesional, seimbang dan menarik bagi audiens dengan berbagai latar belakang; 
Peserra juga mendaparkan pengalaman bertukar ide mengenai cara untuk menghadapi intoleransi keagamaan, menjalin hubungan jangka panjang dengan rekan seprofesi dengan latar belakang agama yang berbeda.(*)