PURWOKERTO, AJI-Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerja sama dengan Google News Initiative dan Internews kembali menggelar lokakarya bertajuk Hoax Busting and Digital Hygiene. Lokakarya digelar di Aula AK Ansori Universitas Muhammadiya Purwokerto, Jumat (27/9).

AJI dan Google Kenalkan Cara Tangkal Hoaks

PURWOKERTO, AJI-Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerja sama dengan Google News Initiative dan Internews kembali menggelar lokakarya bertajuk Hoax Busting and Digital Hygiene. Lokakarya digelar di Aula AK Ansori Universitas Muhammadiya Purwokerto, Jumat (27/9).

Lokakarya setengah hari ini dilatarbelakangi tingginya penetrasi internet di Indonesia. Hal ini memicu arus informasi mengalir deras ke berbagai penjuru daerah. Namun ternyata tak semua informasi itu valid. Di antara informasi itu ada berita palsu atau hoaks.

Hoaks kerap mengecoh karena muncul seolah informasi yang valid. Pada tahap yang lebih parah, hoaks memicu gesekan sosial, baik karena isu agama, politik atau keetnisan. Karena itu, penting bagi para pengguna media sosial sebagai medium penyebaran hoaks mengetahui bagaimana menangkal hoaks.

Sejak pendaftaran dibuka, ada 77 pendaftar yang diterima panitia. Namun setelah melalui proses seleksi, hanya 71 pendaftar yang dinyatakan lolos. Dari 71 pendaftar ini, 40 orang di antranya hadir pada hari pelaksanaan. Para peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, aktivis hingga kalangan umum. “Komposisinya paling banyak dari kalangan mahasiswa,” kata Rudal Afgani Dirgantara, Ketua AJI Kota Purwokerto, usai membuka acara ini.

Rahmat "Anca" Hardiansya dan Muhammad Yunus menjadi pemateri pada pada workshop ini. Mereka berdua merupakan trainer tersertifikasi Google. Mereka menerangkan hoaks bertebaran melalui berbagai platform media sosial. Untuk terhindar dari paaran hoaks, pengguna media sosial harus kritis dan memiliki keterampilan menggunakan perangkat yang antara lain disediakan Google. “Di sini kita akan belajar bersama mengidentifikasi hoaks menggunakan berbagai tools agar tidak mudah terprovokasi hoaks,” ujar Anca.

Selain mengenalkan berbagai perangkat yang ada di Google, workshop ini juga membahas bagaimana menjaga keamanan data masing-masing yang tersebar di berbagai akun, mulai dari email dan media sosial. “Kami juga mengenalkan bagaiamana menjaga kemanan siber dengan membuat kata kunci yang tidak mudah ditembus,” ujar Yunus.

Workshop berakhir pukul 17.00 WIB. Pada sesi akhir peserta mengisi formulir untuk mengevaluasi efektivitas dan kebermanfaan program.

Sehari kemudian, diselenggarakan lokakarya untuk jurnalis di Purwokerto dan sekitarnya. Sedikitnya 23 jurnalis tergabung dalam pelatihan yang digelar di Ruang Kresna Hotel Aston Purwokerto. Anca dan Yunus masih menjadi trainer pada workshop ini. Workshop ini berlangsung dua hari, mulai Sabtu hingga Minggu (28-29/9). (Aziz)