Ketidakadilan Pangan Di Timur Indonesia

Kumpulan Tulisan Jurnalistik Tentang Keadilan Pangan Di Indonesia Timur

PENULIS:
Alex Dimoe
Astrid Tehang
Dis Amalo
Kun Agung Sumarmo
Muhammad Ridwan Alimuddin
Palce Amalo
Ridwan Marzuki
Supratman Yusbi Yusuf
Suriani Mappong
Yohanes Adrianus


FOTO COVER:
Eko Siswono Toyudho (Tempo)
 

DITERBITKAN OLEH
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia
Jalan Kembang raya no. 6 Kwitang, senen
Jakarta pusat 10420 indonesia
e-mail   : sekretariat@ajiindonesia.org
website : www.aji.or.id

DOWNLOAD 39

Pada akhir 2012, Badan PBB Urusan Pangan mengirimkan pesan penting: satu dari delapan orang di dunia, tidur dalam keadaan lapar. Bukan karena tidak ada makanan, namun karena ketidakseimbangan hak dalam mengakses sumber daya alam, seperti tanah pertanian dan air bersih.

Laporan itu diperkuat dengan gambaran menyedihkan bahwa sumber daya alam bukan berada sepenuhnya di tangan petani sebagai produsen. Juga tidak di tangan jutaan konsumen pangan. Sumber daya alam yang terbatas dikontrol oleh korporasi besar dan pemerintah. Terbukti sudah, masalah utama kelaparan di dunia bukan semata disebabkan kemalasan orang miskin. Melainkan ketimpangan distribusi sumber daya alam berikut bahan pangan yang ada.

Itulah premis mendasar yang wajib diketahui para jurnalis dalam menulis isu keadilan pangan. Jika didalami, ini akan membedah masalah-masalah mendasar seperti manfaat dan risiko asal-usul pangan, juga soal “dari mana, apa, dan bagaimana” sumber pangan tumbuh, diproduksi, didistribusikan, untuk kemudian dikonsumsi secara luas oleh manusia.

Bagi Indonesia, isu keadilan pangan semakin penting.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia semakin sering mengimpor bahan makanan, mulai dari beras, kedelai, bawang putih, sampai buah-buahan untuk rakyat. Ini aneh, mengingat Indonesia hampir memiliki semua syarat terciptanya keadilan pangan : tanah yang subur, air melimpah, dan sumber daya manusia dalam bidang pertanian.

Isu keadilan pangan terasa lebih krusial di wilayah Indonesia bagian Timur. Politik pembangunan yang terlanjur Jawa Sentris telah menciptakan problem ketergantungan pangan masyarakat Indonesia Timur, seperti Papua dan NTT. Meskipun beras bukan makanan utama masyarakat Indonesia Timur, hampir seluruh warga disana terkena getah masalah ketidakadilan pangan.

Sayangnya media di Indonesia melihat masalah keadilan pangan sebagai isu pinggiran. Itu terlihat dari minimnya porsi pemberitaan media massa dalam isu keadilan pangan. Laporan media umumnya hanya menampilkan isu-isu permukaan seperti ancaman kelaparan dan kekeringan, kurang mengeksplorasi masalah secara mendalam.

Sebagai pilar ke-4 demokrasi, media idealnya bisa ikut mengubah kebijakan pemerintah soal pangan. Melalui wacana ketahanan pangan dan kebijakan negara yang berorientasi kerakyatan, media bisa mendorong pemerintah agar memberi respon yang cepat, tepat, berkeadilan, dalam urusan pangan. Aliansi Jurnalis Independen (AJI), menyadari media bisa memainkan peran kunci dalam persoalan keadilan pangan. Namun, kurangnya kapasitas dan pemahaman jurnalis dalam isu ini menjadi tantangan tersendiri.

Inilah yang membuat AJI bekerja sama dengan OXFAM mengadakan program peningkatan kapasitas jurnalis dalam isu keadilan pangan. Diikuti puluhan jurnalis di wilayah Timur, serangkaian training dan diskusi intensif digelar di Makassar, Mandar, dan Kupang sejak Januari hingga Maret 2013. Wilayah Timur dipilih untuk memperkecil ketimpangan 7 kapasitas jurnalis dan media di wilayah Barat dan Timur. Keluaran akhir dari program kerja sama AJI-Oxfam ini adalah kompilasi tulisan berjudul “Ketidakadilan Pangan di Timur Indonesia”. Buku ini berisi 10 hasil tulisan peserta program keadilan pangan kerja sama AJI-Oxfam yang terpilih dan pernah dipublikasikan oleh medianya masing-masing.