Webinar Series "Literasi Kebencanaan di Indonesia untuk Menangkal Mis-Disinformasi" AJI- Google News Inititative

25 Feb 2021 12:37 pm | Oleh : Naharin Ni'matun

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dengan dukungan Google News Initiative (GNI) akan menyelenggarakan rangkaian webinar bertema "Literasi Kebencanaan di Indonesia untuk Menangkal Mis-Disinformasi". 

Simak detil tiap webinar di bawah ini dan daftar melalui formulir: bit.ly/webinar_literasibencana 

Jika Anda membutuhkan informasi lain, silakan menghubungi naharin@ajiindonesia.or.id atau febrina@ajiindonesia.or.id

 

Webinar #1 "Banyak Bencana: Apakah Indonesia negeri yang dikutuk Tuhan?"

Dalam pemberitaan terkait bencana, jurnalisme memiliki peran mengedukasi masyarakat tentang kebencanaan: bagaimana menghindari bencana, memahami potensi kerawanan tempat yang ditinggali, bersikap bijak terhadap alam, dan seterusnya. Sayangnya, alih-alih mengedukasi publik, media kerap menampilkan angle pemberitaan yang tidak mendidik yang mengaitkan bencana dengan perilaku saleh beragama. Misalnya, peristiwa gempa palu dikaitkan dengan kelompok LGBT atau sejumlah bencana lain dikaitkan dengan dosa-dosa masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut.

Faktanya, secara geografis Indonesia adalah negeri rawan bencana karena berada di antara tumbukan tiga lempeng benua dan jajaran gunung api. Sesaleh apapun masyarakat yang tinggal di pesisir barat Sumatera tidak akan meniadakan gempa di wilayah itu karena pesisir barat sumatera merupakan pertemuan lempeng India-Australia dan Eurasia. Sebaliknya, kekurang salehan masyarakat Kalimantan tidak akan mendatangkan gempa karena tidak ada tubrukan lempeng di daratan Kalimantan.

Tentu saja ada bencana yang disebabkan oleh faktor manusia. Tapi itu bukan tentang kesalehan melainkan perilaku manusia terhadap alam: alih fungsi hutan, lahan, illegal logging, dll. 

Stop mengaitkan bencana alam dengan azab Tuhan. Edukasi publik dengan informasi yang benar sehingga masyarakat Indonesia bisa hidup aman berdampingan dengan bencana yang secara geografis tidak mungkin dihindarkan. 

Tanggal/waktu: Selasa, 2 Maret 2021, pukul 14.00-16.00 WIB. 

Pembicara:

  • Prof. Dr. Eng. Adi Maulana, ST. M.Phil. (Kepala Pusat Studi Kebencanaan UNHAS)

  • Nur Hidayati (Direktur Eksekutif Walhi Nasional)

  • Sinam Sutarno (Ketua JRKI)

 

Webinar #2 "Banyak Bencana: Bagaimana Seharusnya Media Memberitakan Bencana?"

Dalam pemberitaan terkait bencana, jurnalisme memiliki peran mengedukasi masyarakat tentang kebencanaan: bagaimana menghindari bencana, memahami potensi kerawanan tempat yang ditinggali, bersikap bijak terhadap alam, dan seterusnya.

Ada banyak kritik terhadap media terkait pemberitaan bencana. Jurnalisme firasat dan perasaan adalah dua hal yang selalu dikritik. 

Apa saja kritik yang lain? Sejauh mana media di Indonesia sudah mengedukasi publik terkait masalah kebencanaan? Bagaimana seharusnya media memberitakan bencana dengan benar? Pertanyaan-pertanyaan itu ingin dijawab dalam seri kedua ini. 

Tanggal/waktu: Kamis, 4 Maret 2021, pukul 14.00-16.00 WIB. 

Pembicara:

  • Ahmad Arif (Wartawan Harian Kompas, penulis buku Jurnalisme Bencana Bencana Jurnalisme) 

  • Ignasius Haryanto (Pengajar UMN dan pengamat media)

  • Dewi Safitri, Sekjen Society Indonesian Science Journalist (SISJ) / Standard and Practices Specialist CNN Indonesia.

Webinar #3 "Banyak Bencana Banyak Hoaks: Belajar dari Fact Checker"

Biasanya, setiap bencana di Indonesia diikuti dengan kemunculan hoaks bencana. Foto atau video tentang bencana yang lain dinarasikan terkait dengan bencana yang baru saja terjadi.

Dalam konteks ini, media perlu memainkan perannya sebagai penjernih informasi, bukan malah mengamplifikasi informasi yang keliru. Sudah banyak media yang memiliki tim cek fakta di ruang redaksinya. 

Webinar ini ingin mengetahui bagaimana pengalaman para pelaku cek fakta men-debunk hoaks bencana. Pengalaman mereka berguna sebagai sarana pembelajaran bagi audiens.

Tanggal/waktu: Senin, 8 Maret 2021, pukul 14.00-16.00 WIB. 

Pembicara:

  • Moses Parlindungan, Fact-checker AFP

  • Bentang Brilyan, Fact-checker Mafindo 

  • Zainuddin Muda Z. Monggilo, Dosen Ilmu Komunikasi UGM

Webinar #4 "Bencana di Indonesia: Belajar dari Literatur"

Tidak ada satupun bencana alam di Indonesia yang sifatnya baru. Semua adalah kejadian berulang. Bergenerasi-generasi manusia Indonesia sebelumnya mengalami bencana yang sama. Atas, bencana-bencana itu, bahkan nenek moyang kita telah mewarisi kebijaksanaan hidup yang berguna untuk bersahabat dengan gempa. Misalnya, rumah kayu anti gempa, syair smong masyarakat Simeulue untuk menghindari tsunami, atau nama wilayah Tagari Lonjo (terbenam dalam lumpur pekat) di Perumnas Balaroa Palu yang hancur ditelan likuifaksi.

Ada warisan pengetahuan yang terputus antar generasi. Adakah literatur yang mencatat jejak-jejak bencana yang sama di masa lalu sehingga kita bisa belajar darinya? Di mana mendapatkan literatur itu? Mungkinkah melakukan penelusuran literatur di internet? Situs apa saja yang kredibel? Apa tipnya menelusuri literatur di internet?

Tanggal/waktu: Rabu, 10 Maret 2021, pukul 14.00-16.00 WIB. 

Pembicara:

  • Eko Yulianto (Peneliti LIPI soal tsunami purba)

  • Yunanto Wiji Utomo (Wartawan Sains Kompas.com)

  • Diyah Naelufar (Fact-checker/ Data Analyst Liputan6.com)

 

Webinar #5 "Banyak Bencana di Indonesia: Pemberitaan soal Mitigasi Terlupakan?" 

Dalam pemberitaan soal bencana, media cenderung lebih suka pada aspek drama sebuah bencana. Apakah jumlah korban, dampak kerusakan, atau tangis air mata. Ada aspek penting yang sering terlupakan dalam praktik jurnalisme bencana yaitu mitigasi bencana. Adalah tugas jurnalisme untuk mengedukasi publik bagaimana cara menghadapi bencana dan hidup bersahabat dengan bencana.

Apa itu mitigasi bencana? Sejauh mana media di Indonesia sudah memainkan perannya dalam mengedukasi publik soal mitigasi bencana? Seperti apakah pemberitaan terkait mitigasi bencana?

Tanggal/waktu: Senin, 15 Maret 2021, pukul 14.00-16.00 WIB. 

Pembicara: 

  • Eko Teguh Paripurno (Ketua Forum Perguruan TInggi untuk Pengurangan Risiko Bencana)

  • Heri Andreas (Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB)

  • Ika Ningtyas (Jurnalis TEMPO)