Rangkaian Webinar "Krisis Iklim, Misinformasi dan Peran Media"

30 Mar 2022 17:00 pm | Oleh : Naharin Ni'matun

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dengan dukungan Google News Initiative (GNI) akan menyelenggarakan rangkaian webinar bertema "Krisis Iklim, Misinformasi dan Peran Media". Webinar ini akan digelar di 20 kota. 

1. Yogyakarta

Judul webinar "Menangkal Misinformasi Seputar Perubahan Iklim"

Webinar menghadirkan dua narasumber, dari jurnalis lingkungan untuk memberi perspektif yang jelas soal perubahan iklim, serta bagaimana posisi jurnalis dalam meliput isu tersebut. Kemudian dari Mafindo untuk melihat tren misinformasi dan hoaks di Indonesia termasuk Jogja, khususnya terkait perubahan iklim. 

Narasumber
1. Pendiri Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), Harry Surjadi
2. Ketua Komite Litbang Mafindo, Vaya Arina 

Moderator
Januardi Husein (AJI Yogyakarta) 

Tanggal/Waktu: Kamis, 7 April 2022 

 

2. Langsa

Judul webinar "Perubahan Iklim dan Ancaman Kekeringan di kota Langsa" 

Lemahnya pemahaman masyarakat terkait perubahan iklim juga terlihat di daerah kota langsa.Perubahan fungsi hutan lindung menjadi areal pembuangan sampah (TPA), lahan perkebunan dan pertanian serta pembangunan pemukiman warga. terus terjadi. Akibatnya hutan lindung Keumuning yang berada di wilayah Pemerintah Kota Langsa terus mengalami deforestasi dari luas ± 1.050 Ha saat ini hanya bersisa 784,26 Ha atau 74,69% Ha Hutan yang masih berfungsi sebagai Hutan Lindung sedangkan seluas 265 Ha atau 25,31% sudah berubah fungsinya. (data Walhi Aceh).

Hutan lindung Keumuning selain berfungsi sebagai lindung juga berfungsi sebagai kawasan hutan penyangga air. Sumber air PDAM kota langsa dan sumber air masyarakat kota langsa yang terletak dibawah kaki bukit kawasan hutan lindung keumuning sangat bergantung pada kondisi hutan lindung keumuning.Sumber air tersebut saat ini telah menunjukan adanya ancaman kekeringan, diduga akibat perubahan fungsi dan peruntukan kawasan hutan lindung keumuning dan kerusakan yang terjadi.Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh professional expertise perubahan iklim (naturalis dan deltares) wwf Aceh pada Nopember 2018 bahwa telah terjadi penurunan debit air baku di Kota Langsa dan sekitarnya. Masyarakat juga mulai merasakan kesulitan untuk mendapatkan sumber air bersih dalam 10 tahun terakhir. Sikap anti sains di kalangan masyarakat semakin memperburuk kondisi kerusakan lingkungan di kota langsa. Apalagi penyebaran hoaks dan misinformasi tentang perubahan iklim juga meluas.

Narasumber

1. SISWANTO, ST., M. Si (Kepala BMKG Malikussaleh Aceh Utara)
2. WAHYUDIN, SP., M. Si (Kepala Stasiun Klimatologi Aceh Besar)
3. Dr. H. AGUS PUTRA AS, S.Pi, M.Sc ( AKADEMISI UNSAM LANGSA)
4. Hengki Mulyadi (Kontributor TVRI wilayah Langsa)

Moderator
Ivo Lestari (AJI Langsa) 

Tanggal/Waktu: Jumat, 8 April 2022 

3. Jambi 

Judul Webinar "Krisis Iklim, Bencana Ekologi, dan Bagaimana Peran Media Menangkal Misinformasi"

Menurut laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang diluncurkan Februari 2022 lalu menunjukkan bahwa dampak krisis iklim sudah terjadi dan harus segera dilakukan adaptasi. Suhu Bumi dipastikan bakal bertambah melewati ambang batas 1,5 derajat celsius pada 2030, bahkan saat ini, peningkatan suhu global sudah mencapai 1,1 derajat celsius.

Dampak ini pun sudah bisa dirasakan oleh masyarakat Provinsi Jambi. Intensitas cuaca ekstrim di Jambi terjadi dalam beberapa tahun terakhir dan meningkat signifikan. Hujan deras disertai angin kencang menyebabkan bencana hidrometeorologi. Bencana hidrometerologi merupakan bencana yang terjadi dampak dari fenomena meteorologi seperti angin kencang, angin puting beliung, banjir, banjir bandang dan tanah longsor.

Sebagai contoh pada tahun baru 2022, terjadi bencana banjir, tepatnya di Kabupaten Bungo, Jambi. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jambi mencatat sebanyak 19.292 warga terdampak dan ribuan orang mengungsi.

Bahkan telah mengkhawatirkan, bencana banjir dan longsor telah beberapa kali terjadi daerah hulu Jambi, yang notabene dikenal sebagai dataran tinggi. Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh--daerah dataran tinggi dulunya tidak pernah mengenal banjir, namun kini saat intensitas hujan tinggi daerah dataran tinggi tersebut sering dilanda bencana ekologi.

Sementara itu, di musim kemarau suhu udara Jambi kian panas dan kekeringan terjadi di beberapa daerah di wilayah Provinsi Jambi. Lahan-lahan pertanian menjadi tidak produktif. Hasil panen terus menurun, dan petani tak bisa lagi memprediksi musim untuk menentukan masa tanamnya.

Begitu pula ketika memasuki musim kemarau ini kita selalu disibukkan dengan bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Krisis iklim telah meningkatkan frekuensi kebakaran hutan dan dan lahan serta kerusakan yang diakibatkannya. Kalimat ini tentu tidak datang dari langit, melainkan dari kaca mata sains.

Faktanya lagi ketika musim kemarau kebakaran hutan masih terus terjadi dan sudah menjadi “agenda tahunan”. Bencana ini tentu menimbulkan kerugian yang yang sangat besar. Sektor pendidikan, ekonomi lumpuh. Belum termasuk korban jiwa dan biodiversitas yang lenyap.

Meski kita telah dijejerkan fakta-fakta bahwa krisis iklim ini benar adanya, namun masyarakat kita belum sepenuhnya mendukung konsesus ilmuwan tentang krisis iklim ini. Misinformasi mengenai krisis iklim masih terjadi sehingga masyarakat tidak mempercayai akan krisis iklim ini. Lemahnya pemahaman masyarakat dan pemerintah terkait persoalan krisis iklim ini mengingatkan bahwa peran media sangat dibutuhkan dalam membangun literasi publik terkait krisis iklim.

Narasumber

1. Kepala Stasiun Meteorologi Depati Parbo Kerinci, Kurnianingsih (tentative)
2. Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Jambi, Dwi Nanto
3. Jurnalis Mongabay Indonesia, Lili Rambe

Moderator
M. Ramond Epu (AJI Jambi) 

Tanggal/Waktu: Selasa, 12 April 2022 

Link Registrasi: https://bit.ly/krisis_iklim_AJIJambi

 

4. Padang 

Judul webinar "Tema: Dampak Perubahan Iklim Terhadap Bencana Alam di Sumbar" 

Pelepasan emisi karbon berupa karbon dioksida dan monoksida setiap hari semakin meningkat. Tercatat hingga 2021, kenaikan suhu bumi secara keseluruhan meningkat 1,1 derajat celcius. Perubahan iklim yang signifikan memberi dampak negatif terhadap bumi, diantaranya es mencair di kutub dalam volume besar hingga kebakaran hutan akibat tingginya suhu bumi. Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang diluncurkan Februari 2022 lalu menunjukkan, dampak perubahan iklim sudah terjadi dan harus segera melakukan adaptasi. Sumbar memiliki hutan seluas 2.286.883 hektare atau 52 persen dari total daerah provinsi itu. Namun, total keseluruhan hutan tersebut mengalami deforestasi dari tahun ke tahun. Hingga 2021, luas hutan menyusut menjadi 41 persen atau 1.744.549 hektare. Penyusutan hutan itu mengakibatkan berbagai bencana alam.

Narasumber

1. Campaigner Greenpeace Indonesia, Asep Komarudin
2. Kepala Divisi Kampanye WALHI Sumbar, Tommy Adam
3. AJI Padang, Yuafriza 

Moderator
Sonya Andomo (AJI Padang) 

Tanggal/Waktu: Rabu, 13 April 2022 

Link Registrasi: http://bit.ly/ajipadang