Pihak Tergugat Mangkir dari Panggilan PTUN Ambon

15 Jul 2022 11:45 am | Oleh : Putri Adenia

Pihak tergugat kasus pembekuan Lembaga Pers Mahasiswa Lintas di Institut Agama Islam Negeri Ambon mangkir dari panggilan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Ambon. Majelis hakim berjanji bakal melayangkan panggilan kembali kepada pihak tergugat supaya dan hadirkan pada Kamis, 21 Juli 2022.

"Oke, kita lanjut saja, dan pertemuan berikut kita pastikan untuk kehadiran tergugat," kata pimpinan sidang I Gede Eka Putra sekaligus Wakil Ketua PTUN Ambon di ruang sidang, seperti ditirukan penggugat III Idris Boufakar, seusai menghadiri sidang pemeriksaan berkas pada Kamis, 14 Juli 2022.

Pemeriksaan persiapan administrasi (dismissal process) gugatan Lintas dengan tergugat Rektor IAIN Ambon Zainal Abidin Rahawarin berlangsung sekitar dua jam. "Sampai hari ini kami sudah sampai pada pemeriksaan pemberkasan di PTUN Ambon," kata Idris. "Ada beberapa poin yang perlu direvisi dan kami diberi waktu selama satu bulan ke depan."

Rektor IAIN Ambon digugat setelah membredel Lintas melalui Surat Keputusan Nomor 92 Tahun 2022 tertanggal 17 Maret 2022. Tindakan menonaktifkan unit kegiatan mahasiswa ini berlangsung setelah Lintas menurunkan laporan kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus.

Selain Idris, mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, tiga penggugat lainnya, yakni M. Sofyan Hatapayo, Yolanda Agne, dan Taufik Rumadaul. Ketiganya adalah mahasiswa Jurusan Jurnalistik Islam. Gugatan ini didaftarkan pada 7 Juli lalu dengan nomor perkara 23/G/2022/PTUN.ABN.

Tim penggugat berharap gugatan di pengadilan bisa berjalan lancar. Selain itu, empat pengurus Lintas ini berharap pihak PTUN Ambon bersikap independen mengawal gugatan Lintas. Pengawalan yang dimaksud penggugat, yakni proses gugatan dapat berlanjut hingga membatalkan SK pembekuan.

"Saya mewakili teman-teman penggugat, kami berharap proses ini tetap berlangsung. Pihak berwajib (di) pengadilan tetap independen mengawal kasus ini sebaik mungkin sampai ke tingkat Lintas bisa kembali berjalan seperti biasa, berproses sebagaimana mestinya," tutur Ketua Divisi Diklat dan Kaderisasi LPM Lintas, itu.

Kronologi Lintas dinonaktifkan terjadi setelah pers mahasiswa menurunkan laporan kekerasan seksual dalam majalah edisi "IAIN Ambon Rawan Pelecehan". Lintas menemukan 32 orang mengaku korban pelecehan seksual di Kampus Hijau—sebutan IAIN Ambon.

Korban terdiri dari 25 perempuan dan 7 laki-laki. Sementara terduga pelaku perundungan seksual 14 orang. Di antaranya 8 dosen, 3 pegawai, 2 mahasiswa, dan 1 alumnus. Liputan pelecehan ini ditelusuri sejak 2017 dengan kasus yang terjadi sejak 2015-2021.

Tak hanya ditutup. Sekretariat Lintas diserang dan dua anggotanya dipukul karena isi berita, sehari setelah majalah beredar. Selain tindakan brutal itu, sembilan anggota Lintas yang tergabung dalam tim liputan khusus dilaporkan ke Polda Maluku. Laporan ini menyebabkan pengurusan studi akhir enam mahasiswa aktif, juga anggota Lintas dihentikan sementara.