Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, pada 2014 ini, AJI Indonesia kembali memilih nominasi penerima Udin Award dan Tasrif Award.

PRESS RELEASE

UDIN AWARD DAN TASRIF AWARD

 

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, pada 2014 ini, AJI Indonesia kembali memilih nominasi penerima Udin Award dan Tasrif Award. Dua penghargaan yang diberikan AJI sebagai upaya untuk mendorong kebebasan pers dan kebebasan berekspresi di Indonesia.

Udin Award, diambil dari kata panggilan wartawan Harian Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin yang meninggal dunia pada 16 Agustus 1996 di Yogyakarta. Udin dianiaya orang tidak dikenal karena pemberitaan yang ditulisnya pada 13 Agustus 1996, dan meninggal dunia tiga hari kemudian. Sampai saat ini, kasusnya tidak tuntas diusut. Pembunuh Udin masih berkeliaran.

Melalui Udin Award, AJI ingin memberikan penghargaan kepada jurnalis maupun kelompok jurnalis profesional, dan memiliki dedikasi pada dunia jurnalistik, serta menjadi korban kekerasan. Para nominator Udin Award 2014 ini adalah para jurnalis korban kekerasan sepanjang Agustus 2013 hingga Agustus 2014, dan usulan dari berbagai pihak.

Dalam catatan AJI, setidaknya ada 45 kasus kekerasan yang dilakukan oleh berbagai pihak, dalam berbagai kesempatan sepanjang rentang waktu di atas. Setiap kasus dianalisa secara mendalam, dengan mempertimbangkan sisi profesionalisme, dedikasi pada dunia jurnalistik, dan kronologi kejadian.

Dengan berbagai pertimbangan itu maka dewan juri Udin Award menyatakan TIDAK ADA pemenang Udin Award 2014. Keputusan ini tentunya tidak mengecilkan arti kasus kekerasan yang sudah terjadi, serta berbagai upaya yang telah dan akan terus dilakukan atas kasus itu.

Sementara Tasrif Award didedikasikan untuk mengenang Suardi Tasrif. Sosok ini dikenal sebagai “Bapak Kode Etik Jurnalistik Indonesia” dan orang yang tidak kenal lelah memperjuangkan kemerdekaan berpendapat, hak konstitusional yang selalu disebut-sebut sebagai hak fundamental pemenuhan HAM.

AJI mengabadikan namanya sebagai penghargaan bagi perorangan maupun kelompok atau lembaga yang gigih memperjuangkan kemerdekaan pers dan kemerdekaan berpendapat pada umumnya. Pada Tasrif Award 2014 ini, dewan juri menyatakan REMOTIVI dan ICT WATCH sebagai pemenang Tasrif Award.

Dewan juri menilai, apa yang selama ini dikerjakan Remotivi menjadi salah satu hal penting bagi demokratisasi frekuensi di Indonesia, dalam ranah perwujudan siaran televisi yang lebih sehat.

Tiga hal yang menjadi tujuan utama organisasi ini, (1) mengembangkan tingkat kemelekmediaan masyarakat, (2) menumbuhkan, mengelola, dan merawat sikap kritis masyarakat terhadap televisi, dan (3) mendorong profesionalisme pekerja televisi untuk menghasilkan tayangan yang bermutu, sehat, dan mendidik.Benar-benar dirasakan.

Meskipun hal itu tidak serta merta menciptakan tayangan televisi yang ideal pada saat ini, namun setidaknya, apa yang dikerjakan Remotivi bisa menjadi awal dari munculnya kepedulian dan peran serta masyarakat, untuk bersama-sama mendorong televisi menciptakan program yang bermanfaat bagi publik.

Dengan semangat yang hampir sama, meskipun dalam wilayah yang berbeda, dewan juri menilai organisasi ICT Watch sangat bermanfaat untuk mendorong demokratisasi di dunia internet di Indonesia. Melaui aktivitasnya, ICT mendorong dunia internet di Indonesia menjadi instrumen publik dalam pemenuhan hak atas informasi.

ICT Watch dengan aktif menggalang perlawanan atas kebijakan-kebijakan pemerintah atau pihak-pihak lain yang dirasakan mengebiri kemerdekaan publik dalam menggunakan internet. Seperti penyensoran dan pembuatan regulasi-regulasi yang membatasi internet. Gerakan yang dilakukan ICT Watch menjadi bagian dari gerakan serupa di dunia.

Dewan juri menilai, apa yang dilakukan Remotivi dan ICT Watch berpengaruh pada kondisi Indonesia di masa depan. Ketika frekuensi publik (dalam ranah televisi) dan internet, menjadi bagian yang semakin tidak terpisahkan bagi masyarakat.