Profesi Penuh Risiko,  AJI Gelar Workshop Safety of Journalist di Batam

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kembali menggelar Workshop Safety of Journalist di Golden View Hotel, Batam, pada 11 hingga 12 November 2017.

Sebanyak 17 perwakilan anggota AJI dari beberapa kota di Indonesia seperti dari Lampung, Bengkulu, Medan, Palembang, Padang, Tanjungpinang dan Batam turut mengikuti workshop ini.

Workshop yang menghadirkan beberapa pemateri dari pengurus AJI Indonesia seperti Aryo Wisanggeni, Bambang Murijanto dan Hendra Makmur membuka wawasan baru bagi  peserta.

Dalam penyampaian materi Aryo mengatakan, keamanan jurnalis sangat diperlukan karena terdapat beberapa resiko. Kasus kekerasan terhadap jurnalis atau pers kerap kali terjadi mengikuti kekerasan, tindak pidana, atau pelanggaran HAM lainnya .

"Jangan lupa, advokasi tidak boleh membahayakan korban," jelasnya. Ia melanjutkan, advokasi selamanya mengikuti kemauan korban, bukan mengikuti orang yang mengadvokasi. 

"Kita juga perlu melakukan analisa apakah kasus kekerasan atau ancaman itu terkait dengan kerja jurnalistik jurnalis yang menjadi korban atau tidak," paparnya.  

Bambang Murijanto dalam pemaparannya mengatakan, kekerasan terhadap jurnalis adalah salah satu bentuk pelanggaran kebebasan pers yang dijamain UU No.40 tahun 1999 tentang Pers.

"Kekerasan terhadap jurnalis adalah langkah awal untuk menghalangi publik (masyarakat) untuk mendapatkan informasi berkualitas," jelas Bambang, yang juga menjadi anggota Majelis Pertimbangan Organisasi AJI Indonesia.

Senada dengan Bambang, Hendra Makmur, koordinator AJI wilayah Sumatera mengatakan, keselamatan adalah yang utama dalam melakukan kerja jurnalistik, oleh karenanya perlu untuk selalu mengawal segala bentuk proses hukum bila kekerasan terhadap jurnalis terjadi. Selain itu, penting juga untuk mewaspadai kemungkinan adanya pelemahan proses hukum.

Workshop ini juga diisi oleh Unggul Sagena, dari Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) yang memberikan materi tentang pentingnya para jurnalis untuk melakukan pengamanan secara digital saat bekerja.

"Jurnalis perlu untuk menerapkan budaya keamanan. Tujuannya, sebagai upaya untuk meminimalisir risiko. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah menjaga “musuh” untuk tidak dapat mengakses informasi sensitif baik secara fisik maupun secara elektronik dari Anda," terang Unggul.

Ketua AJI Batam, Muhammad Zuhri mengatakan, workshop ini menjadi penting mengingat setiap tahunnya kekerasan terhadap jurnalis masih terus terjadi dan cenderung mengalami peningkatan.

Workshop Safety of Journalist ini digagas oleh IFC pada awal tahun 2016, yang mencatat 107 orang jurnalis terbunuh di berbagai belahan dunia dengan 90 persen diantaranya adalah lokal jurnalis. Hal ini mengindikasikan adanya krisis terhadap keamanan dan perlindungan jurnalis yang masih lemah.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang mempunyai visi yang sama dalam memberikan advokasi kepada jurnalis, kemudian  bekerjasama dengan IMS dan IFJ (the International Federation of Journalists) dengan menyelenggarakan training mengenai Safety of Journalist.

Sejak Juni 2016 hingga Desember 2017, IMS dan IFJ (the International Federation of Journalists) sedang mengumpulkan berbagai model yang menjadi best practice dalam safety of journalist (keamanan bagi jurnalis) di berbagai wilayah seperti Colombia, Philippines, Pakistan, Indonesia, Irak, Afganistan, dan Nepal. 

Hasilnya akan digunakan sebagai bagian dari studi penelitian global yang ditujukan untuk memberikan informasi kepada praktisi media lokal, pemangku kebijakan, dan organisasi pengembangan media yang bekerja untuk memperbaiki keamanan bagi jurnalis di tujuh negara tersebut dan juga negara lainnya.