SOLO--Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Solo menggelar diskusi publik bertajuk "Mengurai Benang Kusut Transportasi Bandara" di Rumah Banjarsari, Jl. Syamsurizal No.10 Setabelan, Banjarsari, Solo, Sabtu (10/3).
Diskusi itu menyoroti soal insiden tak menyenangkan terhadap penumpang taksi berbasis aplikasi online yang terjadi di Bandara Adi Soemarmo, Februari lalu. Kasus itu menjadi contoh tidak bebasnya masyarakat memilih moda transportasi. Idealnya, penumpang bisa memilih transportasi publik jenis apapun dari manapun mereka berada.
 
"Apalagi dalam kasus ini konsumen berada di ruang publik yakni bandara, yang juga merupakan penghubung berbagai moda transportasi. Bisa dibayangkan apa yang dirasakan setiap penumpang setelah tiba di terminal kedatangan bandara, lalu berpotensi mengalami kejadian serupa yang tak menyenangkan," ujar Ketua AJI Solo, Adib M. Asfar, Jumat (9/3).
 
Adib menerangkan jauh sebelum kasus ini muncul, keluhan-keluhan sudah bermunculan terkait tidak banyaknya pilihan transportasi publik yang tersedia di Bandara Adi Soemarmo. Saat konsumen enggan menggunakan jasa taksi bandara lantaran merasa terlalu mahal, mereka harus rela berjalan kaki lebih dari 1 km keluar kompleks bandara dengan memikul barang bawaan agar bisa mengakses moda transportasi lain. Selain menyulitkan konsumen, situasi ini tidak menguntungkan bagi banyak pihak yang berkepentingan dengan pusat-pusat transportasi publik, seperti terminal, stasiun kereta api, dan terutama bandar udara. "Jika konsumen merasakan kesulitan yang berulang ketika datang ke bandara, maka citra kota khususnya sektor pariwisata bakal dipertaruhkan. Hal ini bisa berdampak panjang bagi rantai industri pariwisata, perhotelan, dan jasa lainnya yang mengandalkan kunjungan wisatawan," tutur dia.
 
Untuk mengupas itu diskusi publik menghadirkan pengamat transportasi Universitas Sebelas Maret Solo Syafii, pemerhati pariwisata, mantan Ketua Assosiation of Indonesian Tours and Travel Agencies/ASITA Solo Daryono, dan pemerhati hak konsumen, mantan Ketua Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen/BPSK Solo Bambang Ary Wibowo. "Diskusi ini tidak bermaksud mengulangi perdebatan antara transportasi konvensional maupun yang berbasis aplikasi online. Melalui diskusi ini, kami mengharapkan ada solusi yang bisa ditawarkan untuk memperbaiki situasi di atas dengan cara elegan dan meminimalisasi gejolak sosial. Setidaknya, ada rekomendasi yang bisa disampaikan kepada para pemangku kebijakan melalui diskusi ini," harap Adib.
 
(AJI Solo)