AJI Palu. Foto Metrosulawesi

#AJI #Palu #kekerasan polisi

Sikap AJI Palu soal Kekerasan Polisi terhadap M. Iqbal

AJI Palu. Foto Metrosulawesi


Sikap tidak profesional dan angkuh masih mewarnai upaya penegakan hukum yang dilakukan oknum anggota kepolisian di Sulawesi Tengah.
 
Kali ini kekerasan fisik dan umpatan kasar di alami Muh Iqbal yang juga Ketua AJI Palu, yang sedang  melintas di depan pura Agung Wana Kertha Jagatnhata. 
 
Saat itu, anggota kepolisian Polsek Palu Timur sedang menggelar razia.  
 
Iqbal yang sedang tidak membawa surat kendaraan kemudian terjaring razia. Sadar akan kesalahannya, Saudara Moh Iqbal kemudian menyerahkan motor yang dikendarainya  kepada petugas.  
 
Oleh polisi yang menanyainya,  ia diminta mengambil STNK kendaraan di kediamannya.  
 
Iqbal lalu menghubungi rekan kerjanya fery Fajrien di Redaksi Radar TV untuk menjemputnya.  
 
Saat sedang menunggu jemputan dari rekannya itu, ia didatangi beberapa anggota polisi, lalu  menghardik, membentak dan mengeluarkan bahasa kasar bahkan melakukan kekerasan, mencekik leher, menarik kerak baju secara kasar.  
 
Merasa diperlakukan kasar, Iqbal terlibat debat kecil atas perlakuan kasar yang dialaminya. 
 
Sikap kasar dan tidak simpatik oknum polisi saat menjalankan tugasnya tersebut,  adalah bentuk perlawanan nyata  terhadap kebijakan Bapak Kapolri  Jenderal Polisi Tito Karnavian yang sedang membangun nilai nilai profesionalitas bagi Polisi Republik Indonesia,  yakni polisi profesional, moderen dan terpercaya (promoter).  
 
Atas sikap oknum Polisi di Polsek Palu Timur itu, AJI menyatakan sikap
 
1. Mengutuk keras sikap kepada oknum Polisi di Polsek Palu Timur yang semen-mena terhadap masyarakat umum.
 
2. Meminta Kapolda Sulteng Brigjen Pol Ermi Widyatno menindak tegas oknum polisi tersebut, di samping sanksi administratif dan etik yang berlaku di internal korps kepolisian RI
 
3. Aparat kepolisian dalam tugas penegakkan hukum, apa lagi hanya sebatas razia SIM tetap mengedepankan sikap simpatik, tidak semena-mena atau bersikap angkuh apa lagi jika berhadapan dengan rakyat kecil yang lemah secara hukum
 
4. Polisi harus respek dan terhadap profesi lain. Tidak menganggap dirinya lebih mulia dari profesinya dengan mengeluarkan bahasa  yang tidak simpatik.  
 
5. Dalam penegakan hukum, Polisi sebaiknya mempunyai pemahaman HAM yang memadai. Sehingga tidak ada proses penegakkan hukum dengan melanggar hak orang lain.
 
Kronologis Kejadian
 
Tanggal 23 Juni 2018, sekitar Pukul 21.00 saya pulang dari kantor Radar Group yang terletak di jalan yos Sudarso No 09, di Jalan Jabal Nur tepatnya di depan pura Agung Wana Kertha Jagatnhata.  
 
Saya diberhentikan oleh petugas kepolisian yang sedang melakukan razia.  Oleh oknum polisi tersebut saya dimintakan STNK. Dompet dan tas kerja, saya titip sama istri yang pulang terlebih dahulu. Kepala polisi saya mengaku tidak membawa surat surat satupun bahkan tanda pengenal. 
 
Oleh oknum polisi tersebut saya dipersilahkan untuk balik kerumah ambil STNK untuk mengambil motor saya kembali. Mendapat instruksi seperti itu saya kemudian langsung menghubungi rekan kerja saya (fery Fajrien) untuk menjemput. 
 
Ketika sedang menunggu jemputan saya kembali didatangi oleh oknum polisi lain  dan meminta kunci motor saya karena akan dibawa ke Mako Polsek Palu Timur.
 
 Karena sebelumnya saya sudah mendapat instruksi dari oknum polisi lain,  saya menolak untuk menyerahkan kunci motor. 
 
Tidak terima dengan sikap saya, oknum polisi itu kemudian memanggil atasannya (belakangan saya ketahui adalah Kanit Binmas Polsek Palu Timur) dan menyebutkan saya tidak kooperatif.
 
Saya akhirnya didatangi, oleh Kanit Linmas dan langsung bertanya dengan nada keras.  "apa kau!! kau kenapa??"  saya kemudian balik bertanya "saya kenapa pak?" .  Terjadi perdebatan kecil. Tidak lama kemudian ia kemudian menarik leher baju saya dan memegang wajah saya sambil bertanya "kamu mabuk ya?"
 
Saya membantah dan memberikan reaksi tidak senang. Melihat gelagat tersebut Kanit Binmas kemudian berteriak memanggil beberapa orang anggota polisi lain untuk mengamankan dan membawa saya ke kantor Polsek Palu Timur. 
 
 Lalu tiba tiba saya dicekik oleh anggotan polisi dari arah belakang.  Dan beberapa lainnya memegangi saya sambil terus menyeret saya  menjauh dari bahu jalan. Ketika mencekik tersebut saya terus berusaha mengklarifikasi kesalahan saya dan akhirnya memperkenalkan profesi, jika saya seorang wartawan.
 
Saya ditarik menjauh dari jalan ke tempat yang agak gelap sambil terus dicecar dengan bentakan dari beberapa oknum polisi lain.  
 
Saya berusaha menjawabnya dan oleh polisi lain saya diminta diam. Saya menuruti permintaan tersebut untuk diam.  Tapi karena terus dibentak saya akhirnya kembali bersuara dan protes dengan aksi mereka. 
 
Sekitar lima menit di tempat tersebut saya akhirnya menuruti permintaan salah seorang anggota polisi yang tidak berseragam untuk mengalah dan meninggalkan tempat tersebut.  Ketika saya mengenakan helm dan mengambil helm istri saya di motor yang sudah ditahan, saya kembali didatangi oleh Kanit Binmas dan beberapa anggota lain yang terus marah marah.  
 
Saya berbalik dan menjawab tuduhan tuduhan mereka. Kanit Binmas juga mendekati saya dan  berkali kali meminta ID Card saya dengan nada membentak. 
 
 Ia juga menantang saya untuk melaporkan ulahnya tersebut kepada kenalan saya yang menurutnya memiliki pangkat paling tinggi.  
 
Ketika mencoba menjawab, dia tiba tiba maju dan mencekik leher saya dan tangan satunya terkepal hendak memukul namun dia urungkan. 
Merasa terancam, saya kemudian bereaksi dengan membuka helm kembali. 
 
Aksi membuka helm tersebut dianggap sebagai sikap menantang sehingga saya kembali dikerubuti. Ketika hendak naik motor,  beberapa dari mereka kemudian dengan nada keras mulai mengejek dan mengeluarkan kata kata, "dasar wartawan kemarin sore" "wartawan jangan bakase tunjuk jago di sini tidak ada gunanya".  
 
Saya kemudian kembali memperkenalkan posisi dan tempat saya bekerja. "Jika bapak menyebut saya wartawan kemarin, saya beritahukan ke bapak saya adalah pemimpin Redaksi Radar TV. Saya kemudian meninggalkan tempat tersebut.  
 
Palu, 24 Juni 2018
 
AJI Kota Palu
 
Fauzy Lamboka (Koordinator Divisi Advokasi AJI Palu, 082395078387)
Yardin Hasan (Sekretaris AJI Palu, 08114515810)