Penerima Udin Award 2018: Heyder Affan dari BBC Indonesia (kiri) dan Tim Tempo diwakili Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Arif Zulkifli.

#Udin Award 2018 #Wartawan Udin #Ulang tahun aji ke 24 #jurnalis independen

Jurnalis BBC dan Tim Tempo Raih Udin Award 2018

AJI


Jakarta - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kembali memilih nominasi penerima Udin Award dan Tasrif Award. Dua penghargaan yang diberikan AJI sebagai upaya untuk mendorong kebebasan pers dan kebebasan berekspresi di Indonesia. Udin Award, diambil dari kata panggilan wartawan Harian Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin yang meninggal dunia pada 16 Agustus 1996 di Yogyakarta. Udin dianiaya orang tidak dikenal karena berita  korupsi yang ditulisnya pada 13 Agustus 1996, dan meninggal dunia tiga hari kemudian. Sampai saat ini, kasusnya tidak tuntas diusut. Pelaku pembunuhan Udin tak pernah terungkap hingga saat ini. 

Melalui Udin Award, AJI ingin memberikan penghargaan kepada jurnalis maupun kelompok jurnalis profesional, dan memiliki dedikasi pada dunia jurnalistik, serta menjadi korban kekerasan. Para nominasi Udin Award 2018 adalah para jurnalis atau kelompok jurnalis yang menjadi korban kekerasan sepanjang Agustus 2017 hingga Juli 2018, dan usulan dari berbagai pihak.

Dalam catatan AJI, setidaknya ada 75 kasus kekerasan terhadap jurnalis yang terjadi sepanjang rentang waktu itu. Bentuk-bentuk serangan intimidasi di ranah media sosial dan pengusiran, mulai massif akhir-akhir ini. Bahkan buntut dari kekerasan itu kemudian melahirkan tindakan persekusi terhadap media dan jurnalis oleh kelompok yang tidak setuju dengan pemberitaan. 

Setiap kasus dianalisa secara mendalam, dengan mempertimbangkan sisi profesionalisme, dedikasi pada dunia jurnalistik, dan kronologi kejadian. Dengan berbagai pertimbangan itu maka dewan juri Udin Award tahuh ini akhirnya memilih Tempo Media dan Heyder Affan dari BBC Indonesia sebagai pemenang Udin Award 2018.

Tempo Media, menerima serangan persekusi oleh kelompok Front Pembela Islam setelah menurunkan karikatur yang dianggap melecehkan pimpinan FPI Rizieq Shihab. Jauh sebelum persekusi FPI, Tempo hampir selalu menghadapi serangan serta gugatan namun tak sedikit pun menyurutkan daya kritisnya untuk terus menyajikan berita bagi publik. Tempo dalam setahun terakhir, juga aktif terlibat dalam kolaborasi International Concorsium Investigative Journalists (ICIJ) membongkar persoalan pajak orang-orang penting di negara ini. 

Sementara itu, Affan, wartawan BBC Indonesia, dipilih setelah beberapa waktu lalu mengalami pengusiran saat meliput penanganan masalah campak dan gizi buruk di Papua hingga dia tak bisa melanjutkan liputan. Affan dan dua rekannya, diusir oleh aparat keamanan karena dituding memberitakan kondisi yang tidak memihak pada upaya penanganan yang dilakukan pemerintah.

Padahal kritik yang disampaikan media berdasarkan fakta di lapangan, seharusnya disikapi dengan bijak sebagai masukan untuk memperbaiki penanganan campak dan busung lapar di Asmat dan Papua. Pada saat rekannya diusir serta visanya dipersoalkan, Affan terlibat aktif mendampingi dan mengadvokasi kasus tersebut. Dia mengambil risiko besar saat melakukan pendampingan karena intimidasi aparat yang dialami.

Keputusan dewan juri untuk memilih Tim Tempo dan Affan, tentunya tidak mengecilkan arti kasus kekerasan yang lain yang terjadi selama setahun terakhir, serta berbagai upaya yang telah dan akan terus dilakukan atas kasus itu. AJI Indonesia sudah empat tahun berturut-turut tak menghasilkan kandidat yang kuat sebagai penerima Udin Award. Namun munculnya dua peraih Udin Award kali ini, sekaligus menandai kondisi keselamatan pers kita masih dibayangi ancaman. 

Tasrif Award 2018 Jatuh Kepada Mafindo

Sementara Tasrif Award didedikasikan untuk mengenang Suardi Tasrif. Sosok ini dikenal sebagai “Bapak Kode Etik Jurnalistik Indonesia” dan orang yang tidak kenal lelah memperjuangkan kemerdekaan berpendapat, hak konstitusional yang selalu disebut-sebut sebagai hak fundamental pemenuhan HAM.

AJI mengabadikan namanya sebagai penghargaan bagi perorangan maupun kelompok atau lembaga yang gigih memperjuangkan kemerdekaan pers dan kemerdekaan berpendapat pada umumnya. Pada Tasrif Award 2018 ini, dewan juri menyatakan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia  (Mafindo) sebagai pemenang Tasrif Award.

Dewan juri menilai, apa yang selama ini dikerjakan Mafindo merupakan satu usaha yang konsisten dan gigih memerangi massifnya sebaran konten-konten bohong atau hoax. Mafindo, masyarakat Anti Fitnah Indonesia, satu di antara lembaga yang concern pada kerja-kerja verifikasi konten hoax. Hingga satu setengah tahun sejak berdiiri, lembaga ini sudah memverifikasi setidaknya 2.000 konten yang teridentifikasi hoaks yang menyebar di media sosial. Kerja-kerja fact checking ini dilakukan secara sukarelawan, yang melibat banyak voluntir yang tersebar di banyak kota di Indonesia.

Kerja Fact Checking Mafindo tumbuh menjadi gerakan. Selain melakukan fact checking yang melibatkan simpul-simpul relawan. 

Mafindo juga melaksanakan kerja-kerja literasi yang menyasar semua kalangan masyarakat bagaimana mengenali konten hoax, memverifikasinya, serta mengedukasi publik di lingkungan sekitar. Yang menarik, para ibu-ibu rumah tangga hingga anak sekolah menjadi sasaran dari literasi Mafindo.

Selain itu, Mafindo juga berkolaborasi dengan banyak media profesional dalam platform “cek fakta”. Goal yang diharapkan, tumbuh komitmen dari semua media untuk melakukan verifikasi yang lebih disiplin lagi yang selama ini kerap luput. Gerakan Mafindo tak sekedar melibatkan partisipasi publik, namun juga memecut awarness media memerangi hoax.


KONTAK NARAHUBUNG:

ASFINAWATI (JURI UDIN AWARD)
08128218930

M SAVIC ALI (JURI TASRIF AWARD)
0817191945

JONI ASWIRA (KOORDINATOR UDIN AWARD DAN TASRIF AWARD)
08111392292