Jurnalis Perlu Punya Perspektif HAM dalam Menulis Berita Terkait LGBTQ

Meluasnya kampanye mengenai kesadaran gender ternyata tak berbanding selaras dengan persepsi publik mengenai identitas gender, yang tak hanya terbagi pada maskulin dan feminin, tapi juga ada transgender. Mereka yang berada dalam posisi sebagai transgender, apalagi berkaitan dengan orientasi seksual, menjadi kelompok yang rentan di masyarakat karena paling sering dibenturkan dengan nilai sosial dan norma agama.
 
Benturan ini membuat mereka akhirnya mengalami diskriminasi dan stigma sosial yang negatif. Dan kelompok yang paling rentan dalam menunjukkan identitas gender dan pilihan orientasi seksual mereka adalah kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer (LGBTQ).
 
Gerakan dalam memperjuangkan hak kelompok LGBTQ selalu menemui hambatan besar di masyarakat. Sebab, stigma negatif terus ditujukan kepada mereka. LGBTQ kerap dipandang sebagai sebuah aib, kutukan, atau penyakit yang harus disembuhkan. Cara pandang seperti ini akhirnya membuat publik lupa, bahwa kelompok LGBTQ juga manusia yang memiliki hak asasi, hak dasar sebagai manusia untuk hidup, tumbuh dan mengembangkan kapasitas dan kapabilitasnya sebagai mahluk ciptaan Tuhan. 
 
Kondisi ini juga kerap diperburuk dengan pemberitaan media yang tak mempertimbangkan hak asasi kelompok LGBTQ. Media sering kali membuat berita mengenai LGBTQ dari sisi isu orientasi seksual dengan mengedepankan unsur sensasional dan judul yang bombastis.  
 
Media massa di Indonesia kerap menghakimi kaum LGBT lewat pemberitaan melalui judul maupun angel yang mereka buat.  Judul dan angel yang dibuat sering kali hanya fokus untuk menaikkan page view. Hal ini diungkapkan oleh Tunggal Pawestri saat menjadi pembicara dalam Workshop dan Fellowship tentang Keberagaman Gender dalam Perspektif HAM yang diadakan oleh Aliansi Jurnalis Independen dan Ardhanari Institute di Hotel Aryaduta, Jakarta pada Rabu, 5 September 2018.
 
Tunggal, konsultan HAM yang kerap menangani pelanggaran HAM yang terjadi pada kelompok LGBTQ mengatakan bahwa pengaruh pemberitaan media yang memberi stigma negatif pada kelompok LGBTQ ternyata berdampak buruk. Banyak diantaranya mengalami depresi yang parah. Ia mengatakan, mengutip laporan dari Ardhanari Institute, pada Januari 2016 lembaga tersebut mendapat laporan bahwa banyak teman-teman LGBT yang ingin bunuh diri karena tak kuat tekanan media. Tunggal juga menyatakan, selain depresi, kaum LGBT juga mengalami persekusi, dan diskriminasi dalam akses pendidikan, akses kesehatan, dan akses pekerjaan.
 
Karena itu, ia meminta para jurnalis untuk mengenal dan mau belajar mengenai isu LGBTQ. Menurutnya, jurnalis perlu memiliki pengetahuan dasar mengenai SOGIESC, atau Sexual Orientation, Gender Identity, Gender Expression dan Sex Characteristics. Dengan mengenal dan mempelajari SOGIESC, maka para jurnalis akan memahami bentuk diskriminasi terhadap LGBT dan dampak dari pemberitaan tersebut. "Fakta tentang konstruksi sosial dibangun kaum patriarkhi dan heteronormatif, menyudutkan dan mendiskriminasi kaum LGBT", ujarnya.
 
Sekjen AJI Revolusi Riza mengakui isu LGBT sebagai isu yang perlu pemahaman cukup. Menurutnya, pemberitaan yang salah mengenai kelompok LGBT bisa menimbulkan terjadinya re-viktimisasi, atau korban tak mendapatkan pembelaan, tapi kembali menjadi korban. Itu sebabnya penting bagi jurnalis untuk memiliki perspektif HAM yang memadai agar bisa menulis tentang LGBT tanpa menjadikan mereka obyek page view terus menerus. 
 
Pembicara lainnya, Eko Subiantoro mengatakan, melalui workshop ini jurnalis akan memahami ada penjelasan medis yang sangat kuat yang melatarbelakangi seseorang menjadi LGBTQ. Ia juga memaparkan, diskriminasi yang terjadi pada kelompok ini lebih didominasi oleh konstruksi sosial yang terbangun d tengah masyarakat. 
 
Workshop dan fellowship tentang Keberagaman Gender dalam Perspektif HAM ini diadakan oleh Aliansi Jurnalis Independen dan Ardhanari Institute. Workshop ini diadakan pada  Rabu dan Kamis, tanggal 5 dan 6 September 2018. Dari puluhan proposal yang masuk, panitia memilih 24 peserta dari seluruh Indonesia untuk mengikuti workshop ini di Jakarta. Melalui workshop ini diharapkan para jurnalis yang menjadi peserta memiliki pemahaman baru yang berbeda tentang kelompok LGBTQ dan bisa menjadikan HAM sebagai dasar pemberitaan yang tak boleh dilanggar. Seluruh peserta terpilih wajib menurunkan tulisan dalam bentuk liputan mendalam atau indepth reporting tentang kasus LGBTQ di wilayahnya masing-masing. Untuk itu seluruh peserta berhak mendapatkan beasiswa peliputan.