Jurnalismedata.id menjadi platform yang bisa diakes secara cuma-cuma oleh publik untuk belajar jurnalisme data

#Jurnalisme data #Data Driven Journalism #DDJ

AJI Luncurkan Platform Belajar Online Jurnalismedata.id

Launching Jurnalismedata.id


AJIINDONESIA, Jakarta – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia meluncurkan e-Learning Platform Jurnalismedata.id. Platform ini dimaksudkan untuk menjadi ruang belajar bagi publik, khususnya jurnalis, dalam membuat karya jurnalistik yang berbasis data. Kehadiran platform ini merupakan tuntutan tak terhindarkan di tengah melimpahnya data dan informasi di jagat maya.

Ketua Umum AJI Indonesia Abdul Manan mengatakan, digitalisasi membuat data dan informasi begitu melimpah. Sebagian informasi itu adalah valid, tapi tidak sedikit yang palsu. “Jurnalisme data adalah salah satu tools untuk menghasilkan berita berkualitas, yang itu juga ampuh untuk melawan hoaks dan disinformasi,” katanya saat membuka peluncuran platform Jurnalismedata.id ini, Senin (4/ 1) di Jakarta. 

Abdul Manan menambahkan, selama ini AJI tidak menerima dana dari pemerintah. Namun AJI membuka peluang bekerjasama program dengan sejumlah lembaga negara. Dalam peluncuran situs belajar online ini, dukungan antara lain berasal dari KSP melalui inisiatif yang bernama Satu Data Indonesia. Selain itu, dukungan lainnya adalah melalui upaya mendorong lembaga pemerintah dan badan publik untuk lebih membuka data terbukanya agar bisa diakses jurnalis.

Yanuar Nugroho, Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia saat sesi diskusi peluncuran platform Jurnalismedata.id mengatakan, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi publik memandatkan pemerintah membuka datanya. “Publik harus bisa mengakses dan mendapatkan data pemerintah,” katanya.

Yanuar juga menambahkan, Satu Data Indonesia merupakan inisiatif pemerintah untuk mendorong lebih banyak data publik yang bisa diakses publik melalui data.go.id. Harapannya publik dapat memanfaatkannya untuk ikut mengawal pembangunan. "Jurnalis bisa memanfaatkan data terbuka itu agar bisa menghasilkan karya berbasis data," kata Yanuar.

Inisiatif untuk mendorong tumbuhnya Jurnalisme Data sudah dilakukan sejak 2016 lalu. Saat itu Kantor Staf Presiden bekerjasama dengan AJI dan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) menggelar workshop dan kompetisi Indonesia Data Driven Journalism (IDDJ) 2016. Kompetisi itu berlangsung hingga 2017.  "Saat ini, dengan kemajuan teknologi, pelatihan dan kompetisinya dapat kita selenggarakan secara online dan bisa melibatkan lebih banyak peserta melalui platform jurnalismedata.id," kata Robertus Theodore, Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden. Ia berharap jurnalisme data juga lebih dikenal dan dipelajari generasi muda, seperti pers mahasiswa dan jurusan-juruan komunikasi/jurnalistik di perguruan tinggi.

Sekjen Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wahyu Dhyatmika menyambut baik kemunculan platform Jurnalismedata.id. Menurutnya, melalui platform ini kemampuan jurnalis untuk mengumpulkan data, mengolah, memvisualisasikan dan menceritakan data akan tersebar luas. “Karya jurnalistiknya (melalui jurnalisme data) tetap akurat dan mewakili realitas. Ini kenapa situs ini ada. Supaya kemampuan itu merata di seluruh jurnalis,” katanya.

Pembelajaran jurnalisme data di Jurnalismedata.id tak terikat ruang dan waktu. Selain jurnalis, publik bisa belajar tentang jurnalisme data secara gratis melalui situs ini. Para peserta cukup membuat akun untuk memulai proses belajar secara online. Pembelajaran akan didukung dengan video tutorial sehingga memudahkan saat mengikuti modul pembelajaran.

Jurnalismedata.id juga memiliki halaman lain yang tak kalah menarik: katalog lembaga-lembaga pemerintah dan non-pemerintah yang menyediakan data terbuka, rekomendasi aplikasi yang bisa digunakan untuk jurnalisme data, hingga halaman seminar online (webinar). “Ketika pemerintah sudah membuka data, alat untuk memanfaatkan data itu bisa melalui jurnalismedata.id,” kata Sekjen AJI Indonesia, Revolusi Riza, dalam diskusi peluncuran Jurnalismedata.id itu.

E-learning platform ini dikembangkan dengan dukungan USAID CEGAH untuk mendorong publik dan jurnalis belajar secara mandiri. Jurnalis dapat mengikuti tatap muka dengan mentor-mentor dalam sesi webinar terjadwal. Platform ini dapat diikuti publik dan jurnalis di mana saja selama memiliki jaringan internet.