Diskusi Hak-hak Pekerja Media di Masa Pandemi

15 Oct 2020 16:36 pm | Oleh : Naharin Ni'matun

Pandemi Covid-19 membikin pekerja media di seluruh dunia, termasuk Indonesia, menghadapi pelbagai risiko. Mulai dari ancaman terhadap kesehatan lantaran infeksi virus corona, pemotongan gaji, kehilangan pekerjaan hingga kondisi kesehatan mental yang memburuk. Profesi jurnalis adalah salah satu yang tetap harus berjalan di tengah wabah ini. Sialnya, tak semua perusahaan memberikan jaminan perlindungan yang ajeg, baik dari segi keselamatan kerja ataupun kesejahteraan. Selain was-was terhadap penularan virus corona saat terpaksa harus liputan, jurnalis juga masih diintai bayang-bayang pemutusan hubungan kerja karena situasi ekonomi yang serba buruk. Belum lagi perkara beban kerja dan kesehatan mental jurnalis saat bekerja dari rumah atau working from home (WFH). Pandemi yang menjejak Indonesia sejak Maret 2020 lalu telah merombak cara kerja jurnalis. Sebagian besar di antaranya bekerja dari rumah dengan mekanisme WFH, waktu kerja pun alhasil berpotensi kian lentur, bisa semakin panjang. Terlebih kebutuhan jurnalis yang terus-menerus perlu mengonfirmasi banjir informasi demi memastikan informasi yang akurat dan aktual di tengah pandemi. Kondisi boleh jadi semakin gawat ketika jurnalis tak sungguh-sungguh memahami hak-haknya di tengah pandemi. Survei Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) terhadap 1.308 staf dan jurnalis lepas menunjukkan, dua per tiga dari total responden atau 872 jurnalis mengalami pemotongan gaji, kehilangan pekerjaan dan kondisi pekerjaan yang memburuk selama pandemi. Survei yang dilakukan antara 26 dan 28 April ini melibatkan jurnalis dari 77 negara. Masih dari survei yang sama, statistik mendapati hampir setiap jurnalis kehilangan pendapatan dan kesempatan pekerjaan. Lebih dari separuh jurnalis menderita stres dan kecemasan. Sementara lebih seperempat dari total jurnalis responden tak mendapatkan alat yang memungkinkan mereka bekerja dengan aman dari rumah. Sementara, satu dari empat jurnalis tidak mendapatkan alat perlindungan diri yang mumpuni untuk bekerja di lapangan. Responden juga mengungkap soal jam kerja yang lebih lama dan sumber daya yang minimalis sebagai hambatan untuk meliput dengan tepat di tengah pandemi. Sementara periode 30 Maret hingga akhir September, setidaknya 242 jurnalis dinyatakan positif Covid-19. Jurnalis berisiko tinggi terinfeksi karena mereka diharuskan menghadiri konferensi pers langsung atau offline yang lemah protokol kesehatan. Dalam diskusi kali ini Anda akan diajak menguliti hak-hak pekerja media dan memastikan keselamatan/kesehatan jurnalis di masa pandemi. Selain itu juga barangkali perlu pula untuk menyusun strategi apa yang perlu dan bisa dilakukan ketika hak-hak pekerja dilanggar oleh perusahaan media.