Menggugat Hari Pers Nasional
Setiap tahun peringatan Hari Pers Nasional berlangsung mewah meski sedikit yang tahu bahwa hari pers hari ini adalah peringatan hari lahir salah satu organisasi profesi wartawan. Sedikit pula yang tahu hari pers nasional yang selama ini diperingati tidak punya pijakan sejarah kuat.
Keberadaan organisasi wartawan di Indonesia, muncul sejak zaman kolonialisasi Belanda. Tercatat sejumlah organisasi wartawan telah berdiri. Yang paling menonjol adalah Inlandsche Journalisten Bond (IJB), berdiri pada 1914 di Surakarta. Selain itu tercatat dalam sejarah Sarekat Journalists Asia yang lahir tahun 1925, Perkumpulan Kaoem Journalists pada 1931 dan Persatoean Djurnalis Indonesia yang dideklarasikan tahun 1940. Setelah kemerdekaan terbentuk Persatuan Wartawan Indonesia pada 9 Februari 1946.
Pada masa pemerintahan Orde Lama, Presiden Soekarno tidak menetapkan hari khusus untuk memperingati kebangkitan pers Indonesia. Gagasan Hari Pers Nasional baru muncul pada kongres ke-16 PWI, Desember 1978 di Padang.
Salah satu keputusannya adalah mengusulkan kepada pemerintah agar menetapkan 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional. Setelah tujuh tahun, terbitlah Surat Keputusan Presiden Nomor 5 tahun 1985 yang menetapkan hari lahir PWI menjadi Hari Pers Nasional. Ini adalah buah lobi Harmoko pada Presiden Soeharto, yang saat itu telah menjabat sebagai Menteri Penerangan. Apalagi setahun sebelumnya keluar Peraturan Menteri Penerangan Nomor 2 Tahun 1984 yang menyatakan PWI sebagai satu-satunya organisasi wartawan yang diizinkan pemerintah.
Mengutip pernyataan Daniel Dhakiedae yang dimuat di Okezone, 9 Februari 2016, peneliti dan mantan Kepala Litbang Kompas ini, mengatakan penetapan hari pers seharusnya tidak merujuk pada hari lahir organisasi wartawan. Idealnya merujuk pada kelahiran surat kabar di Indonesia.
Daniel mengatakan Medan Prijaji, yang terbit pertama pada Januari 1907 merupakan titik kelahiran pers. Karena media yang terbit mingguan, milikTirto Adhi Suryo ini, tercatat sebagai perusahaan pers pertama yang dikelola oleh bumiputera. Pada masa itu, pers yang berkembang di Hindia Belanda adalah pers yang dimiliki orang-orang Belanda (Indo) dan Tionghoa.
Catatan kritis Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak, meski menggunakan nama Medan Prijaji, terbitan mingguan yang kemudian menjadi harian ini, mampu melampaui semangat primordialisme yang berkembang dalam tubuh pers saat itu.
Koran ini mengusung semangat kebangsaan, menancapkan makna kemerdekaan bersuara dan tanggung jawab pers sebagai suara bagi seluruh anak negeri. Shiraishi mengatakan melalui Medan Prijaji, TirtoAdi Soeryo melakukan gerakan kebangsaan melalui tulisan.
Berdasarkan fakta historis itu, penting mengkaji kembali Hari Pers Nasional. Agar peringatan Hari Pers Nasional mempunyai nilai ideologis dan historis yang kokoh bagi semua insan pers dan masyarakat Indonesia, hari ini dan masa depan. Tidak sekedar seremonial belaka.
Tujuan
- Memperkuat fakta historis kelahiran pers di Indonesia
- Mengkaji ulang tanggal Hari Pers Nasional
Peserta
Seminar akan dihadiri sekitar 100 orang dari kalangan organisasi profesi jurnalis, akademisi, peneliti dan mahasiswa.
Narasumber
- Asvi Warman Adam (Akademisi)
- Atmakusumah Astraatmadja (Tokoh Pers)
- Muhidin M. Dahlan (Peneliti)
Pelaksanaan
Tanggal : Kamis, 16 Februari 2017
Tempat : Hall Dewan Pers
Waktu : 10.00- selesai
Rundown
10.00-10.30 Registrasi dan coffee morning
10.30-11.00 Pembukaan
- Sambutan Ketua AJI Indonesia Suwarjono
- Sambutan Ketua IJTI Yadi Hendriana
- Sambutan Ketua PWI Margiono
- Sambutan Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo
11.00-12.30 Presentasi narasumber:
Asvi Warman Adam: “Kajian Historis Pers Pergerakan di Indonesia
Kisi-kisi: Bagaimana kelahiran pers pergerakan di Indonesia? Bagaimana prasyarat menentukan hari besar nasional?
Atmakusumah Astraatmadja: “Nilai Ideologis Hari Pers Nasional”
Kisi-kisi: Bagaimana dinamika penentuan tanggal 9 Februari sebagai hari pers saat itu? Nilai ideologis seperti apa yang seharusnya menjadi parameter dalam menentukan hari pers?
Muhidin M. Dahlan : “Mengkaji Hari Pers Nasional Hari Ini”
Kisi-kisi: Bagaimana posisi hari pers saat ini? Mengapa perlu merevisi hari pers nasional?
Moderator: Iman D. Nugrono (CNN Indonesia)
12.30-13.30 Tanya Jawab
13.30-14.00 Perumusan rekomendasi
- 180 kali dilihat






