Editor Meeting “News Room Perspective on Science Journalism”
Latar Belakang
Secara fundamental Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengubah cara orang hidup, berhubungan, berkomunikasi dan bertransaksi, yang berefek pada pembangunan ekonomi. Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah pendorong utama pembangunan dalam suatu negara, karena revolusi teknologi dan ilmiah mendukung kemajuan ekonomi, perbaikan sistem kesehatan, pendidikan dan infrastruktur.
Ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Revolusi teknologi abad ke-21 memunculkan berbagai macam teknologi berdasarkan mikro-prosesor, tele-komunikasi, bio-teknologi dan teknologi nano. Melalui terobosan dalam pelayanan kesehatan dan pendidikan, teknologi mampu membantu memperbaiki kehidupan penduduk di negara berkembang. Pemberantasan malaria yang menjadi momok di benua Afrika selama berabad-abad, sekarang mungkin. Begitu pula dengan berbagai penyakit endemik di negara berkembang yang bisa melemahkan kondisi untuk hidup sehat dan produktif.
Di Indonesia, perkembangan lmu pengetahuan dan teknologi dihadapkan pada masalah klasik berupa belum memadai dan tertatanya infrastruktur pengembangan iptek nasional, dalam bentuk (1) ketersediaan sumberdaya (manusia, modal, sarana dan fasilitas, prasarana dan informasi) penelitian dan pengembangan yang menyebabkan tidak tercapainya ambang kritis aktivitas litbang, (2) pola manajerial kelembagaan litbang yang cenderung struktural, (3) belum terbangunnya mekansime intermediasi yang berpeluang mempersambungkan kapasitas iptek dengan kebutuhan industri dan dunia usaha, serta (4) belum tegas dan operasionalnya bentuk intervensi pemerintah dalam mendorong iklim yang kondusif bagi berkembangnya industri berbasis litbang maupun penguatan kapasitas iptek nasional (www.dikti.go.id).
Ilmu pengetahuan dan teknologi juga belum menjadi hal utama dalam pembangunan di Indonesia. Hal ini bisa terlihat dalam komposisi anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu 0,09% dari anggaran nasional. Idealnya dibutuhkan setidaknya 2% dari anggaran nasional untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Distribusi informasi hasil penelitian ilmu pengetahuan juga masih terkendala. Kementrian Lingkungan Hidup RI mencatat ada sekitar 100 dokumentasi hasil inovasi ilmuwan Indonesia yang belum terdiseminasi.
Peran media dan jurnalis sangat dibutuhkan. Hal ini juga terkait dengan salah satu fungsi pers menurut Undang-Undang Pers No.40 Tahun 1999, yaitu sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial. Selain mendistribusikan hasil inovasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, media juga diharapkan mampu mendorong kebijakan yang lebih baik.
Sehubungan dengan itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bekerjasama dengan British Council akan mengadakan pertemuan bagi kalangan Editor Media di Indonesia untuk mendiskusikan bagaimana media dapat berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satunya melalui Science Journalism.
Tujuan
- Menggali perspektif newsroom media di Indonesia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.
- Mendiskusikan bagaimana kolaborasi yang bisa dilakukan oleh kalangan ilmuwan dan jurnalis melalui pengembangan science journalism.
Agenda
10.00-10.30 coffee morning dan registrasi
10.30-11.00 pembukaan,perkenalan,penjelasan program
11.00-12.30 Harry Surjadi
12.30-13.30 lunch
13.30- 15.00 Soegardjito, Phd ( Center for Sustainable energy and resources management)
15.00-16.00 input editor
16.00-16.30 kesimpulan
- 14 kali dilihat






