x

25 JURNALIS GORONTALO DILATIH MELIPUT SOAL JAMINAN SOSIAL

Sebanyak 25 orang jurnalis di Provinsi Gorontalo dilatih untuk melakukan liputan soal jaminan sosial, khususnya dalam mengangkat hal-hal yang terkait dengan kinerja Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) baik ketenaga kerjaan maupun kesehatan dalam workshop yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen bekerja sama dengan Friedrich Ebert Stiftung, selam dua hari mulai Jumat (13/6) hingga Sabtu (14/6) di Hotel Grand Q Gorontalo.

Dalam kegiatan itu, para jurnalis mendapatkan banyak pengetahuan mengenai penyelenggaraan jaminan sosial yang diberikan oleh para narasumber dari Dewan Jaminan Sosial Nasional, BPJS Ketenagakerjaan Provinsi Gorontalo, BPJS Kesehatan Provinsi Gorontalo. Konsultan Kesehatan Publik (Martabat), Akademisi Universitas Negeri Gorontalo, serta Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Provinsi Gorontalo. 

Dalam membuat rencana peliputan (outline), peserta dibimbing oleh Alwan Ridha dan Agus Rakasiwi dari serikat pekerja AJI Indonesia, tertama dalam hal pendalaman isu terkait, berikut pengetahuan dan etika jurnalistik.

Di hari terakhir para peserta kemudian diminta untuk membuat sebuah outline terkait isu jaminan sosial, kemudia akhirnya pihak penyelenggara memutuskan 5 outline terbaik dan berhak atas beasiswa sebesar Rp. 1,5 Juta.

Ke lima outline tersebut adalah

  1. Realisasi Jaminan Sosial Bagi Pekerja, Oleh Ali Rajab dari Mimoza Chanel
  2. Terbukanya akses kesehatan di keterbatasan fasilitas sederhana, Oleh Budi Akantu dari RRI Gorontalo
  3. Pelayanan Masyarakat Pinggiran, Oleh Rivol Paino
  4. Masyarakat Pinogu harus mengeluarkan jutaan rupiah demi pelayanan rumah sakit, Oleh Hamdan Abu Bakar dari Gorontalo Post.
  5. Penggunaan infus tanpa SOP yang benar, Oleh Debby Mano dari LKBN Antara.

Salah anggota tim penilai, dari Friedrich Ebert Stiftung, Mian Manurung, mewakili FES berharap melalui pelatihan ini, jurnalis di Gorontalo dapat lebih peka menggali isu jaminan sosial di daerahnya sendiri.

Ketua AJI Gorontalo, Syamsul Huda M.Suhari, menambahkan peserta lainnya yang tidak terpilih, tidak boleh berkecil hati dan diharapkan bisa menindaklanjuti rencana peliputan yang telah diajukan.

“Ini isu yang terbilang jarang diangkat oleh media di Gorontalo, yang cenderung mengandalkan peristiwa atau talking news para elit politik lokal, padahal isu ini penting digali lebih dalam dan diangkat agar diketahui publik luas,” katanya.

 

Share