x

Workshop Jurnalis “Meliput isu perburuhan dan buruh perkebunan"

Latar Belakang

Isu ketenagakerjaan atau perburuhan di Indonesia semakin kompleks, di tengah perlambatan ekonomi dunia yang terus terjadi dan persaingan global yang tidak bisa dihindari. Sumber Daya Manusia, regulasi perlindungan ketenagakerjaan yang bekerja di dalam negeri baik formal maupun informal, hubungan industrial, jaminan sosial dan berbagai permasalah lainnya terus menyeruak ke publik.

ketenagakerjaan di Indonesia, yang selama ini mencuat di media hanya pada saat perayaan May Day atau Hari Buruh, adanya TKI yang meninggal, atau demo upah. Padahal, isu ketenagakerjaan bukan sekedar isu permukaan tersebut.

Lebih dari itu, ada isu regulasi baik pusat maupun daerah, SDM, pelatihan kerja ataupun cerita suksesnya perusahaan membangun kondisi hubungan industrial yang kondusif bersama Serikat Pekerja, perbudakan, penipuan ketenagakerjaan, tidak dipernuhinya hak buruh perempuan, bahkan perdagangan dan eksploitasi pekerja anak yang bisa menjadi bahan cerita ke publik agar segera menjadi perhatian pemangku kepentingan.

Di lingkup Sumatera dan khususnya Riau, banyak terdapat perkebunan yang dikelola Negara maupun perusahaan swasta. Perkebunan yang banyak berkembang adalah perkebunan kelapa sawit dan Karet. Menurut data BPS tahun 2013, bahkan perkebunan kelapa sawit provinsi Riau secara nasional menempati posisi teratas di Indonesia seluas 2,3 juta hectare atau 25 persen dari total luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Sedangkan untuk perkebunan karet sekitar 520 ribu hectare.

Sebagian besar produk perkebunan di Riau telah di ekspor, potensi ini semakin mendorong upaya pemerintah untuk mengembangkan industry kelapa sawit. Apalagi didukung dengan Perpres nomor 32 tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) bahwa wilayah Sumatera sebagai Koridor Ekonomi Indonesia.

Dengan besarnya angka lahan perkebunan kelapa sawit dan karet ini, tentunya telah menyerap tenaga kerja yang jumlahnya cukup signifikan juga. Data dari KADIN tahun 2014 menyebutkan perkebunan sawit di Indonesia telah menyerap setidaknya 21 juta orang tenaga kerja baik langsung maupun tidak langsung. Sedangkan di provinsi Riau hingga akhir 2010, sector perkebunan telah menyerap sebanyak 1,19 juta tenaga kerja, atau lebih dari 20 persen dari jumlah penduduk di daerah itu, sebagian besar dari mereka bekerja di perkebunan sawit.

Namun bagaimana gambaran buruh itu? Apakah mereka sudah cukup sejahtera? Atau hak-haknya sebagai pekerja telah sepenuhnya dilindungi? Isu buruh perkebunan sepertinya belum menjadi hal serius dalam pemantauan rantai pasok komoditi perkebunan dan ekspor di Indonesia. Para pihak masih melihat rantai pasok industry perkebunan selama ini lebih pada jumlah komoditi, dampak isu lingkungan, maupun harga komoditi, sementara hal-hal yang berkaitan dengan pekerja dan buruh perkebunan cenderung kurang terekspos.

Mencoba mengupas permasalahan ini untuk lebih mudah difahami oleh jurnalis, Aliansi Jurnalis Independen dan FNV, bekerja sama untuk memberikan peningkatan kapasitas dan pemahaman pada jurnalis di Riau terkait isu ketenagakerjaan khususnya buruh perkebunan yang banyak ditemukan diwilayah ini.

Diharapkan, dengan fahamnya jurnalis tentang isu ini, bisa memberikan dampak terhadap masyarakat. Selain bentuk pengawasan publik, masyarakat pun diharapkan dapat mendapatkan informasi yang akurat terkait isu ketenagakerhaan sehingga publik semakin faham dan target Indonesia jadi negara layak pekerja tercapai.

Implementasi Kegiatan

Workshop akan diselenggarakan selama 2 hari dan melibatkan 20 orang jurnalis dari Riau dan kota-kota terdekatnya. Peserta akan dibuka untuk jurnalis secara umum dari daerah sasaran. Materi workshop didesain dengan membaginya ke dalam 2 bagian, yaitu bagian pendalaman isu dan bagian jurnalistik.

Pada pendalaman isu akan mengeksplorasi materi terkait isu ketenagakerjaan secara nasional dan daerah. Tiga  3 orang narasumber akan dihadirkan dalam proses ini, yaitu dari Kemenaker, akademisi, serta narasumber lokal dari kalangan NGO atau aktifis pemerhati.

Pada bagian jurnalistik akan membahas skill dan pengetahuan jurnalisme, serta etika profesi jurnalis dikaitkan dengan penerapannya dalam isu ketenagakerjaan. Titik berat pembahasan adalah pada bagian membangun ide liputan dan membuat rencana liputan.

Setelah workshop, peserta akan didorong untuk membuat liputan terkait isu perburuhan dan buruh perkebunan. Proposal liputan yang sudah dibahas dalam workshop diharapkan bisa diimplementasikan melalui hasil liputan para jurnalis di media masing-masing. Juga akan diadakan semacam kompetisi untuk memilih 5 usulan liputan peserta terbaik untuk mendapatkan beasiswa liputan sebesar Rp. 3.000.000,-.

Tujuan Kegiatan

  1. Meningkatkan pemahaman para jurnalis terhadap berbagai macam isu perburuhan terutama terkait buruh mperkebunan.                                                                                
  2. Meningkatkan kemampuan dan sensitivitas jurnalis dalam penulisan berita tentang isu buruh sebagai advokasi terhadap kepentingan mereka.
  3. Mendorong jurnalis untuk melakukan liputan yang komprehensif dan mendalam tentang isu buruh.
Share