x

AJI, Internews & Kedubes Belanda Ajak Jurnalis Buka Perspektif HAM di Pemilu

AJIINDONESIA, Solo - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerja sama dengan Internews dan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia menggelar rangkaian workshop bertema Pemilu Dalam Perspektif Keberagaman dan Hak Asasi Manusia (HAM). Salah satu rangkaian dari workshop tersebut diselenggarakan di Kota Solo pada Sabtu-Minggu (16-17/3/2019).

Workshop ini diikuti oleh 25 jurnalis dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, seperti Solo, Semarang, Purwokerto, Jogja, Madiun, Blitar, Malang, Surabaya, dan Pamekasan. Mayoritas ingin mendapatkan pengetahuan tentang analisis masalah dan peliputan isu keragaman dan HAM dalam pemilu.

Dipandu dua trainer alumni training of trainer (TOT) yang digelar beberapa waktu lalu di Jakarta, yaitu Ichwan Prasetyo dan Sinta Maharani, para peserta diajak dalam brainstorming tentang HAM, termasuk bagaimana perspektif HAM dari berbagai media massa selama ini. Hal ini diperkuat dengan materi tentang konsep HAM yang disampaikan oleh Dr Agus Riewanto dari Fakultas Hukum Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS).

Agus juga menyampaikan analisisnya tentang seberapa ramah pemilu Indonesia terhadap HAM dan keberagaman, misalnya terhadap penyandang disabilitas dan kelompok minoritas. Selain itu, dia juga menyampaikan landasan filosofis tentang hak memilih di Indonesia.

“Mengapa di Indonesia memilih adalah hak, bukan kewajiban? Memilih sebagai hak, tergantung kebijakan negara. Itu tidak melanggar HAM, itu soal kebijakan politik. Di Australia, ada kewajiban memilih. Tapi untuk menerapkan itu sulit. Risikonya negara harus menyediakan infrastruktur, mendanai setiap parpol, itu berat,” papar Agus.

Untuk memperkuat pentingnya sudut pandang HAM dalam peliputan, peserta diajak untuk menonton film dokumenter produksi Watchdoc tentang para korban kasus-kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia.

Dari sana, peserta diminta membuka dokumen Deklarasi Universal HAM untuk mengidentifikasi pelanggaran apa saja yang terjadi dalam beberapa kasus. “Jadi Anda sekarang tahu pelanggaran HAM apa saja yang terjadi dalam kasus Talangsari, korban operasi militer di Aceh, dan sebagainya,” kata Ichwan kepada para peserta.

Pada hari kedua, peserta dipandu fasilitator secara spesifik mempelajari sistem pemilu di Indonesia serta bagaimana meliput isu pemilu dengan perspektif HAM. Selain itu, mereka juga diajak untuk mengidentifikasi akar masalah pelanggaran HAM yang sempat diwarnai berbagai adu argumen.

Workshop ini diakhiri dengan presentasi term of reference (TOR) liputan yang telah disusun oleh para peserta sebelumnya. Para peserta kemudian diberi kesempatan untuk menyempurnakan TOR mereka masing-masing sebelum proses seleksi dan sebanyak 10 proposal liputan yang terpilih akan didanai oleh penyelenggara.

“Workshop ini sangat bermanfaat bagi kami untuk meningkatkan pemahaman tentang perspektif HAM dalam meliput pemilu,” kata Erliana Riandy, peserta dari Malang yang merupakan jurnalis Detik.com, Minggu.

Share