x

Pers Benteng Terakhir Ciptakan Pilkada Berkualitas

Pesta demokrasi ini merupakan ujian terhadap independensi media di Sulut. Pilkada merupakan saat yang tepat melihat sejauh mana sikap media dan jurnalis dalam menjalankan fungsi kontrol sosialnya. Hal ini terungkap dalam diskusi yang dalam rangka Dies Natalis ke-21 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang digelar AJI Manado, Jumat (07/08) di Sekretariat AJI Manado. 

Akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Dr Ferry Liando mengungkap, Pilkada menjadi 'arena' pers membuktikan independensinya.  Liando menjelaskan, sejatinya fungsi memberi pendidikan politik kepada masyarakat diemban partai politik (parpol). Sayang, fungsi itu tak berjalan dan diabaikan. Harapan mendapatkan informasi yang benar dan objektif calon kepala daerah dan mendorong terciptanya pilkada berkualitas jauh dari harapan. Masyarakat dewasa ini terbelenggu pragmatisme.

Nah, media menjadi harapan terakhir untuk memberi pendidikan politik yang benar kepada publik. Media dituntut mengawal tahapan Pilkada, memberi pencerahan kepada masyarakat, bagaimana memilih kepala daerah yang baik dan benar. "Pers menjadi benteng terakhir untuk menciptakan pilkada berkualitas," tukas Liando.

Ia kecewa melihat kebijakan sebagian media dan perilaku segelintir jurnalis di Sulawesi Utara yang  jadi partisan. Independensi media dan jurnalis tergadai kepentingan bisnis, kerja sama, kontrak iklan dan sejenisnya. "Kita masih punya harapan media bisa memberi warna pesta demokrasi ini lewat memberitakan secara objektif," jelas Liando yang juga Anggota Majelis Etik AJI Manado.

Hal kurang lebih sama diutarakan Pimpinan Bawaslu Sulut, Johnny Suak SE MSi. Ia menyoroti adanya media yang kebijakan redaksionalnya berpihak kepada calon atau parpol tertentu. Demikian pula sikap jurnalis di lapangan yang gamblang mempertontonkan dukungan kepada calon tertentu. "Ini jelas menciderai semangat independensi media. Padahal, publik sangat menggantungkan harapan, terciptanya Pilkada ideal pada pers," tutur Suak.

Ia mencatat ada beberapa media yang cenderung partisan. Hal itu tergambar dalam pemberitaan. Ia mencontohkan, pada saat tahap pendaftaran pasangan calon baik gubernur maupun bupati wali kota, ada media yang tak memberitakan catatan Bawaslu/Panwaslu terkait kelengkapan berkas calon yang tak lengkap. "Setelah ditelusuri, ternyata memang ada kerja sama antara media dengan si calon," katanya tanpa menyebut nama media.

Suak mengajak AJI Manado menggagas sebuah kerja sama strategis yang bisa mendorong media di Sulut bisa turut menjadi pengawas pelaksanaan Pilkada secara langsung. 

Dr Reiner Ointoe,  pendiri sekaligus Ketua AJI Manado pertama menambahkan, keberpihakan media dan jurnalis tak lepas dari tantangan bisnis media dewasa ini. Katanya, jika dulu lawan media ialah rezim Orde Baru, saat ini lawan media beragam dan  justru dari dalam diri sendiri. "Bagaimana media mampu berbisnis sekaligus menjaga independensinya. Tanpa harus menggadaikan itu untuk sebuah kerja sama pemberitaan, kontrak iklan atau apa-lah namanya," ujar Ointoe. 

Menurutnya, menjadi sebuah 'dosa besar' ketika media dan jurnalis berpihak dan tak lagi mengutamakan kepentingan publik. "Dan ini memang fakta yang ada di Manado--bahkan Sulut--di era pilkada ini," ujarnya. Media katanya harus bisa memberi batas jelas antara kepentingan bisnis dan produk jurnalistiknya. 

Ketua AJI Manado, Yoseph E. Ikanubun menjelaskan, diskusi yang melibatkan anggota AJI Manado ini  digagas dalam rangka memaknai Dies Natalis ke-21 AJI yang diperingati setiap 7 Agustus. Isu pilkada sengaja diangkat karena berangkat dari keprihatinan melihat fakta di lapangan ada sebagian media dan jurnalis yang secara nyata-nyata mengumbar dukungan kepada calon tertentu. "Hasil survai AJI di Manado, 70 persen jurnalis tak paham Kode Etik. Khusus anggota AJI, kami terus memantau dan mengingatkan soal independensi dan integritas," tukasnya.

Ikanubun menegaskan, AJI Manado tetap berkomitmen terus mendorong independensi media dan melawan bentuk-bentuk pengekangan terhadap kebebasan pers. Caranya, melalui pemberitaan berisi informasi edukatif kepada masyarakat. "Hal ini sejalan dengan tagline HUT ke-21 AJI, Cerdas Memilih Media yang bermakna dua arah. Bagi jurnalis dan masyarakat agar selektif dalam memilih media yang dijadikan sumber informasi," jelas Ikanubun.(***)

Share