Puluhan Jurnalis di Manado Sepakat Bentuk Forum Pekerja Media
“Sedikitnya ada enam poin yang berhasil kami rangkum dari pelaksanaan workshop selama dua hari ini. Salah satunya yang paling penting adalah adanya komitmen dari puluhan jurnalis untuk membentuk Forum Pekerja Media,” ungkap Ketua Bidang Tenaga Kerja, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado, Ronny Buol saat merangkum keseluruhan hasil rekomendasi workshop.
Sementara itu, Ketua Bidang Tenaga Kerja AJI Indonesia, Yudie Tirzano menyatakan, apa yang dilakukan selama dua hari itu adalah untuk mendorong terbentuknya serikat pekerja di masing-masing media. “Bisa dimulai dengan membentuk forum pekerja media untuk saling bertukar informasi dan pikiran. Selanjutnya bergerak ke tingkat yang lebih tinggi yakni dengan membentuk Serikat Pekerja di masing-masing perusahaan media,” papar Yudie didampingi Pengurus AJI Indonesia, Edy Chan.
Sedangkan perwakilan FNV (Federatie Nederlandse Vakbeweging) atau Federasi Serikat Buruh Belanda, Tia Claudia Mboeik memberikan apresiasi untuk AJI Indonesia serta AJI Manado yang punya komitmen untuk mendorong pembentukan serikat pekerja di perusahaan media. “Kita punya komitmen yang sama dalam memperjuangkan hak-hak buruh. Dan jurnalis juga adalah buruh,” papar Thya.
Diketahui, kegiatan yang digelar di Hotel Gran Puri Manado ini merupakan bagian dari kerjasama antara AJI Indonesia dan FNV. Tak kurang dari 20 jurnalis dari berbagai media di Sulut ikut ambil bagian dalam kegiatan ini.
Kegiatan diawali, Sabtu (20/06) pagi dengan pengantar tentang FNV oleh Tia. Dalam kesempatan itu, Tia memaparkan tentang sejarah FNV hingga kekuatan organisasi dan gerakan serikat buruh. Di sesi awal itu, Tia berhasil membangun kesadaran peserta training akan pentingnya keberadaan serikat buruh.
Di sesi kedua, materi UU Ketenagakerjaan dan Serikat Pekerja (SP), serta Kondisi Industri Media dan Masalah Perburuhan di Media Manado yang dibawakan oleh Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Provinsi Sulut, Supartoyo dan Ketua AJI Manado, Yoseph E Ikanubun.
Selanjutnya Yudie dan Edy secara bergantian berbagai pengalaman terkait bagaimana membangun serikat pekerja di media masing-masing. Yudie mengisahkan pembentukan serikat pekerja di Harian Surya Surabaya sebelum dia pindah ke Tribunnews. “Kondisi tiap perusahaan media yang berbeda juga membedakan bagaimana strategi untuk membangun sebuah serikat pekerja. Ada manajemen yang menyambut baik, tapi ada juga yang menolak,” papar putra Siau ini.
Sementara Edy, Ketua Serikat Pekerja Kontan juga berbagi kisah pasang surut eksistensi serikat pekerja.
Kemudian ada materi tentang Manajemen Serikat Pekerja Media dan PKB oleh Deni Yudiawan, Ketua Dewan Karyawan Pikiran Rakyat.
Menurut Yudiawan yang juga merupakan Redaktur di Pikiran Rakyat, media terbesar di Jawa Barat, Serikat Pekerja justru merupakan jembatan antara karyawan dan perusahaan untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang terjadi di perusahaan tersebut.
"80 persen karyawan di Pikiran Rakyat adalah anggota Serikat Pekerja yang di kami namanya Dewan Karyawan Pikiran Rakyat. Disitu, kita lebih menjadi mediator dari permasalahan yang timbul antara karyawan dan perusahaan. Dan itu justru membuat perusahaan menjadi lebih anteng ketika berhadapan dengan masalah karyawan," kata Yudiawan.
Yudiawan menambahkan, posisi Dewan Karyawan Pikiran Rakyat yang sudah lebih dari 10 tahun ini, justru oleh perusahaan direspon dengan baik, karena selain memenuhi aturan dalam undang-undang, juga menjadi filterisasi awal ketika persoalan muncul. "Kita merupakan perwakilan karyawan yang mengusulkan mengenai bagaimana perusahaan itu bisa maju tanpa mengesampingkan hak-hak dari para karyawan. Di sini kita harus memposisikan jika karyawan adalah aset penting yang harus dijaga perusahaan lewat hak-haknya," kata Yudiawan.
Sesi terkahir diisi dengan materi UU Pembentukan Serikat Pekerja dan Advokasi Kasus Serikat Pekerja yang disampaikan oleh Direktur LBH Pers Manado, Ferley Kaparang SH MH.(***)
- 4 kali dilihat





