x

Untuk Keadilan Pangan, AJI Gorontalo Pilih 5 Karya Terbaik

 

Ajang Journalist Camp II bertema Keadilan Pangan yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Gorontalo, berhasil memilih lima karya jurnalis terbaik, selain mendapatkan penghargaan berupa masing-maisng uang tunai sebesar 1,5 juta rupiah, karya terbaik itu juga akan dibukukan dan disebarluaskan.

Kelima jurnalis tersebut, masing-masing Christopel Paino (Mongabay.co.id); Nova Daud (degorontalo.com); Irwanto Ahmad (Bali TV); Arlan Pakaya (Mimoza TV) serta Rosyid Azhar (jamburaonline.com). Kelimanya berhasil menyisihkan lima peserta lainnya. Rangkaian kegiatan yang berlangsung selama dua bulan (Februari-Maret) itu merupakan kerja sama AJI Gorontalo, AJI Indonesia dan Oxfam.

Local fasilitator Journalist Camp, Debby Hariyanti Mano, mengatakan sedianya ada 20 peserta yang ikut ambil bagian dalam workshop Journalist Camp I yang sebelumnya digelar pada 15-16 Februari lalu, namun pada perkembangannya, hanya sepuluh jurnalis saja yang tercatat memasukkan karya berupa features.

“Pada Journalist Camp I, peserta dibimbing dan diberi pengetahuan mengenai seluk beluk keadilan pangan oleh narasumber kompeten seperti akademisi, kepala dinas terkait, jurnalis senior dari AJI Indonesia serta dari Oxfam,” ujarnya.

Setelah itu, lanjutnya, mereka disyaratkan membuat proposal peliputan, namun sampai pada journalist camp II, jurnalis yang memasukkan karya hanya sepuluh orang, yakni delapan dari media online dan dua dari televisi.

Adapun proses penilaian atas karya jurnalistik peserta itu, lanjutnya, dilakukan oleh sebuah tim kecil dari AJI.  

Sementara itu, pada journalist camp II yang digelar di hotel Eljie, Kota Gorontalo, Minggu (16/3), para peserta Journalist Camp 1 kembali dikumpulkan untuk saling berbagi pengalaman serta suka dukanya selama proses peliputan.

Acara dipandu oleh sekretaris AJI Kota Gorontalo, Aris Prasetyo, serta menghadirkan dua pembicara yakni kepala pemberitaan RRI Gorontalo, Haris Talamati, serta jurnalis senior Gorontalo, Verrianto Madjowa.

Verrianto, yang juga merupakan salah satu tim penilai mengatakan, karya jurnalistik yang masuk mengangkat tema cukup beragam dan  mengungkap berbagai fakta, seperti topik  jagung yang terlanjur jadi ikon Gorontalo, perambahan lahan oleh perusahaan dan hal-hal lain menyangkut kedaulatan pangan di wilayah itu.

Hanya saja, menurutnya, karya-karya tersebut kebanyakan masih mengupas hal-hal yang bersifat umum, belum spesifik.

“Kondisi pangan yang berbasis kelautan, juga tidak disentuh sama sekali, padahal sumber daya dan persoalannya cukup banyak terjadi di Gorontalo,” kata dia.

Namun begitu, dia mengaku cukup puas dengan karya para jurnalis Gorontalo itu, terlebih mengingat tema keadilan pangan masih cukup jarang disentuh oleh media setempat.

Ke depan, dia berharap tema di atas bisa lebih dieksplorasi lagi oleh kalangan jurnalis dan media lokal setempat.

Share