Media Online, Pertumbuhan Pengakses, Bisnis dan Problem Etika
Puluhan jurnalis mendeklarasikan berdirinya Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Persiapan Purwokerto, di Hotel Aston Imperium, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah , Sabtu (26/1). Dalam acara itu juga disertai
Seminar New Media "Media Online, Pertumbuhan Pengakses, Bisnis dan Problem Etika".
Seminar tersebut menghadirkan empat nara sumber yakni: Suwarjono (Managing Editor VIVA.co.id), Heru Margianto, (Senior Editor Kompas.com), Marto Widiarto (Combine Yogyakarta) dan Edy Santoso (dosen FISIP UNSOED).
Keempat pembicara sepakat pada kesimpulan bahwa meluasnya pemakaian teknologi digital sebagai pengantar informasi telah membuka jalan bagi Indonesia memasuki era New Media. Sejumlah grup industri media besar nasional secara strategis telah menyiapkan langkah konvergensi isi melalui dunia digital. Internet menjadi teknologi konvergensi yang menyatukan berbagai platform media dalam satu bentuk baru media.
Ada dua karakter ” baru” dari media yang bertumbuh lewat internet itu. Pertama, kecenderungannya menyajikan peristiwa secara cepat dan dihadirkan lewat beragam platform sekaligus, dari video, suara dan teks. Kedua, melalui teknologi digital, pesan atau informasi menyebar secara horisontal, dari satu pengguna ke satu komunitas, atau sebaliknya. Misalnya, kemunculan YouTube dengan tagline yang provokatif “Broadcast Yourself”, aplikasi jejaring sosial berbasis video, membuat berbagai peristiwa penting dikirim oleh individu dan dengan sekejap informasi bergambar itu bisa diakses secara global. Pendek kata, internet telah mengubah cara produksi dan distribusi informasi.
Namun Edy Santoso dari UNSOED selain memuji kecepatan dan keampuhan media online yang dapat menyuguhkan berbagai sumber informasi dalam berbagai versi tampilan seperti audio, video, atau sekedar yang berbasis teks interaktif, juga mengkhawatirkan originalitas, kedalaman dan etika. Tiga faktor ini kerap dilanggar, mengingat dalam dunia maya, begitu mudahnya “main comot” berbagai sumber informasi juga etika yang kadang dilanggar melihat begitu bebasnya orang boleh berkomentar. Ini tentu tidak berlaku bagi media yang dikelola secara profesional. (SJ)
Seminar New Media "Media Online, Pertumbuhan Pengakses, Bisnis dan Problem Etika".
Seminar tersebut menghadirkan empat nara sumber yakni: Suwarjono (Managing Editor VIVA.co.id), Heru Margianto, (Senior Editor Kompas.com), Marto Widiarto (Combine Yogyakarta) dan Edy Santoso (dosen FISIP UNSOED).
Keempat pembicara sepakat pada kesimpulan bahwa meluasnya pemakaian teknologi digital sebagai pengantar informasi telah membuka jalan bagi Indonesia memasuki era New Media. Sejumlah grup industri media besar nasional secara strategis telah menyiapkan langkah konvergensi isi melalui dunia digital. Internet menjadi teknologi konvergensi yang menyatukan berbagai platform media dalam satu bentuk baru media.
Ada dua karakter ” baru” dari media yang bertumbuh lewat internet itu. Pertama, kecenderungannya menyajikan peristiwa secara cepat dan dihadirkan lewat beragam platform sekaligus, dari video, suara dan teks. Kedua, melalui teknologi digital, pesan atau informasi menyebar secara horisontal, dari satu pengguna ke satu komunitas, atau sebaliknya. Misalnya, kemunculan YouTube dengan tagline yang provokatif “Broadcast Yourself”, aplikasi jejaring sosial berbasis video, membuat berbagai peristiwa penting dikirim oleh individu dan dengan sekejap informasi bergambar itu bisa diakses secara global. Pendek kata, internet telah mengubah cara produksi dan distribusi informasi.
Namun Edy Santoso dari UNSOED selain memuji kecepatan dan keampuhan media online yang dapat menyuguhkan berbagai sumber informasi dalam berbagai versi tampilan seperti audio, video, atau sekedar yang berbasis teks interaktif, juga mengkhawatirkan originalitas, kedalaman dan etika. Tiga faktor ini kerap dilanggar, mengingat dalam dunia maya, begitu mudahnya “main comot” berbagai sumber informasi juga etika yang kadang dilanggar melihat begitu bebasnya orang boleh berkomentar. Ini tentu tidak berlaku bagi media yang dikelola secara profesional. (SJ)
- 20 kali dilihat



