Pangan Jagung Perlu Diperhatikan
Ir. Zeth Malelak, MS, dekan Fakultas Teknologi Pertanian UKAW Kupang meminta komitmen pemerintah dalam peningkatan produksi pangan jagung di wilayah NTT.
Permintaan ini disampaikan pada kegiatan short course penguatan kapasitas jurnalis dalam kampanye GROW yang digelar AJI-OXFAM di aula hotel Greenia Kupang, Sabtu (15/2).Kegiatan yang diikuti 15 wartawan dari berbagai media di Kota Kupang ini dipandu ketua AJI Kupang, Simon P. Nilli, SP dihadiri mentor Ana Djukana, SH dan Korwil AJI Nusra, Latief.
Dengan materi 'subsidi pada musim tanam II adalah strategi peningkatan produksi jagung di lahan kering NTT', Zeth Malelak menjelaskan kalau komoditi jagung (zea mayz) adalah salah satu pangan yang telah berbudaya bagi masyarakat NTT.
"Pangan jagung merupakan pangan utama yang selalu memberikan respsibilitas kepada kebutuhan energi pertumbuhan tubuh orang NTT," ujarnya.
Namun dalam perkembangan sejarah, komoditi jagung mengalami degradasi sehingga jagung tidak lagi dibahas dalam perspektif pangan maupun ekonomi.
Hal ini disebabkan adanya pola pendekatan pertanian percepatan pangan nasional dengan proyek Bimas, Inmas, Supra Insus yang mentargetkan padi menjadi pangan nasional menggeser kedudukan jagung dan pangan lainnya.
Pemerintah kabupaten pun tidak serius menangani komoditi jagung. Disisi lain penelitian tidak pada perspektirf pengembangan.
Petani di NTT juga masih mengandalkan musim hujan sebagai irigasi jagung, kurangnya data pemetaan daerah pengembangan jagung. Secara konseptional, kebijakan politik belum pernah menentukan untuk apa masyarakat menanam jagung.
Semua pihak diajak mencari strategi yang tepat untuk meningkatkan produktivitas jagung. Hasil penelitian yang dilakukan pihaknya menunjukkan bahwa produksi jagung yang ditanam pada musim tahun pertama hanya 30 % yakni produksi rata-rata kurang dari dua ton per hektar.
Hal ini terjadi karena musim tanah pertama memiliki banyak kendala yakni hujan yang tidak menentu, gulma, angin barat yang kencang, pemupukan yang tidak efektif sehingga sulit dikontrol.
"Dengan produksi yang demikian maka sulit kita mampu bersaing dengan daerah lain yang memproduksi jagung di musim tanam II pada areal lahan kering atau bekas sawah pada musim kemarau," tandasnya.
Hasil uji coba yang dilakukan pihaknya dengan PT Syngenta untuk beberapa varietas jagung dilahan kering menghasilkan produksi jagung hibrida 8 ton per hektar pipilan kering dengan biaya produksi Rp 5,6 juta.
Uji coba ini dilakukan pada bulan Juli 2012 dengan model irigasi tetas (drip irigation). Untuk jagung manis produksinya mencapai 32 ton per hektar basah dengan kadar gula 16 % termasuk hasil yang baik dibandingkan di Mataram dan Bali.
Untuk mengembalikan jagung menjadi produksi terbesar di NTT maka butuh komitmen yang kuat dari seluruh pengambil keputusan agar melihat program jagung menjadi program penarik yang kuat untuk ekonomi rakyat NTT.
Kegiatan ini dibuka Korwil AJI wilayah Nusra, Latief yang berharap kepada peserta untuk terlibat aktif dalam kegiatan tersebut.
Pada sesi diskusi, para peserta banyak mengajukan pertanyaan dan masukan. Bahkan ada peserta yang mengusulkan hasil pelatihan dan peliputan peserta direkomendasikan kepada pemerintah daerah NTT.
Para peserta kemudian dibagi dalam tiga kelompok masing-masing Kelompok 1 membahas "pangan lokal, produsen pangan skala kecil dan perempuan dengan mentor Ana Djukana beranggotakan Astrid Tehang, Leo Ritan, Alex Dimu, Kanis Seda dan John Seo.
Kelompok 2 dengan topik "perebutan lahan dengan mentor Simon Nilli beranggotakan Obet Gerimu, Palce Amalo, Eras Poke, Mbuhang dan Maxi Marho. Sementara Kelompok 3 dengan isu "perubahan Iklim" mentor Simon Nilli beranggotakan Tony Johanis, Silvester Sega, Riflan Hayon, Jean Neno dan Adi Rianhepat.
Pertemuan II akan digelar pada Sabtu (22/2) di aula Greenia Hotel. (Ilo)
- 20 kali dilihat






