Aji Gelar Workshop Perubahan Iklim Di Pontianak
PONTIANAK - Puluhan jurnalis media cetak maupun elektronik di Kalimantan Barat mengikuti Workshop Jurnalis tentang Perubahan Iklim dan Kesejahteraan Masyarakat di Pontianak, Jumat hingga Sabtu (21 – 22/3).
Kegiatan dilaksanakan oleh Aliansi jurnalis Independen Indonesia bekerjasama dengan Friedrich Ebert Stiftung, Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, serta AJI Kota Pontianak. Workshop ini untuk memberikan pemahaman bagi para jurnalis mengenai dampak perubahan iklim terhadap kesejahteraan masyarakat.
" Dampak perubahan iklim dan pemanasan global saat ini sudah dirasakan masyarakat. Para petani dan nelayan adalah kelompok masyarakat yang paling rentan menerima dampak perubahan iklim. Kami harapkan para jurnalis mampu memahami perubahan iklim ini sehingga mampu menuliskannya dengan baik, " kata Ketua AJI Pontianak Heriyanto Sugiya saat memberikan kata sambutan.
Kegiatan dihadiri Sekjend AJI Indonesia Suwarjono dan sejumlah pembicara lokal dan nasional. Sebut saja Mustikorini Indrijatiningrum, Kepala Bidang Adaptasi Perubahan Iklim Kedeputian I, Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat; Dr Eko Kusratmoko dari Pusat penelitian Geografi Terapan (PPGT) UI; Luhur Uji Prayitno dari BMKG Siantan, Pontianak; Rudi Zapariza dari WWF Indonesia Program Kalbar; serta Riza Primadi dari Content Creative Indonesia.
Heriyanto menjelaskan materi workshop didesain dengan membaginya ke dalam dua bagian. Pertama pendalaman isu dan bagian jurnalistik, dan kedua pendalaman soal jurnalistik. "Pada pendalaman isu akan mengeksplorasi materi terkait perubahan iklim yang merupakan salah satu tema utama yang semakin marak dibicarakan dalam pertemuan di tingkat lokal, regional, maupun global," katanya.
Narasumber akan mengemukakan beraneka pandangan, pendapat, serta program aksi telah dihasilkan untuk mengatasi berbagai dampak mendalam, yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Sesi tanya jawab juga dilaksanakan setelah materi disampaikan.
Pada bagian kedua dibahas mengenai skill dan pengetahuan jurnalisme, serta etika profesi jurnalis dan dikaitkan dengan penerapannya dalam isu lingkungan terutama kesejahteraan masyarakat. "Titik berat pembahasan adalah pada bagian membangun ide liputan dan membuat rencana liputannya. Hasil dari workshop ini adalah berbagai rencana liputan dari peserta tentang isu terkait," katanya.
Setelah workshop, peserta akan didorong untuk membuat liputan terkait isu erubahan iklim dan kaitannya dengan kesejahteraan masyarakat. Proposal liputan yang sudah dibahas dalam workshop diharapkan bisa diimplementasikan melalui hasil liputan para jurnalis di media masing-masing. Untuk mendorong proses ini, setelah workshop akan dipilih lima outline liputan terbaik dari para peserta workshop. Kemudian outline terpilih akan diberikan beasiswa liputan hingga bisa diimplementasikan dan dipublikasikan di media massa dari masing-masing daerah.
Workshop di hari kedua diisi dengan pembahasan perencanaan outline. Para peserta diminta mempresentasikan ide liputan pada peserta lain. Sesi ini difasilitasi Sekjend AJI Indonesia, Sumarjono.
Acara juga diselingi nonton bareng film bertemakan perubahan iklim: An Inconvenient Truth. Selama menonton film, outline seluruh peserta dilakukan penilaian oleh juri serta para pemateri. Panitia memberikan beasiswa bagi lima outline liputan terbaik.
Proposal liputan yang sudah dibahas dalam workshop diharapkan bisa diimplementasikan melalui hasil liputan para jurnalis di media masing-masing. Sekjend AJI Indonesia Suwarjono mengharapkan agar tulisan-tulisan tersebut bisa menjadi referensi kalangan jurnalis lainnya untuk meliput persoalan perubahan iklim. "Setelah workshop, peserta akan didorong untuk membuat liputan terkait isu perubahan iklim dan kaitannya dengan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Ketua AJI Pontianak, Heriyanto Sagiya, menyebutkan, masyarakat harus diberikan contoh, bagaimana kelompok lain sukses dalam pengelolaan sumber daya alamnya secara optimal di tengah keterbatasan? Dia mancontohkan bagaimana masyarakat harus mendapat informasi menggunakan bio gas dari yang dihasilkan oleh rumah tangga atau perternakan kelompok masyarakat, melalui informasi media.
Kemudian juga, digambarkan dia mengenai program Kampung Iklim yang dibuat pemerintah dan berbagai komunitas, sebagai upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim secara terintegrasi, agar masyarakat mandiri dalam mengupayakan ketahanan pangan, dalam menghadapi perubahan lingkungan atau iklim, sehingga bisa menjadi informasi yang menarik untuk disebarkan.
"Media, masih menjadi berperan aktif menyampaikan informasi yang bermanfaat. Selain itu, berperan sebagai sarana untuk mengedukasi masyarakat mengenai isu sektor lingkungan, bagaimana lingkungan untuk lebih peduli kepada perkembangan kesejahteraan masyarakat di Indonesia," kata Heri.**
- 2 kali dilihat



