x

Statistik Kematian Bayi di Papua jadi Narasi Terbaik

Tingginya kasus kematian bayi baru lahir di Provinsi Papua Barat mendapat sorotan empat jurnalis di Bandung. Mereka keheranan dengan angka kematian yang melebihi 70 kematian karena pada rentang waktu bersamaan, tahun 2012, jumlah bayi yang mendapatkan pelayanan kesehatan bayi mencapai angka 79,56.

 

Muhamad Syahri Romdhon, 28 tahun, salah seorang jurnalis itu, menyatakan, seharusnya saat angka pelayanan kesehatan bayi mendekati 100, jumlah kematian bayi idealnya rendah. “Ada yang salah dalam pelayanan kesehatan bayi di Papua Barat,” ujar kontributor Kompas.com di sela-sela workshop Data Driven Journalism di Oak Tree Hotel, Bandung.

 

Bersama 19 rekan jurnalis lainnya, Aray, begitu dia biasa disapa, mengikuti pelatihan terkait pengayaan liputan menggunakan data terbuka yang digelar atas kerjasama AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Indonesia dan USAID. 

 

Analisa, visualisasi, dan presentasi Aray, Fauzan, Donny Iqbal, dan Sundari ini menjadi yang terbaik dalam pelatihan kali ini. Narasi lengkapnya bisa ditengok di http://syahri.silk.co/page/Kematian-Bayi.

 

Para peserta yang datang dari daerah Lampung, Purwokerto, Jakarta, Bandung, Cirebon, dan Yogyakarta ini sejak tanggal 24-26 Februari 2017mendapatkan materi tentang pencarian data terbuka, pembersihan, analisa, hingga visualisasi data. 

 

Mereka juga dipaksa menggunakan aplikasi yang jarang mereka sentuh saat memproduksi berita. “Kena (Microsoft) excel saja sudah keleper-keleper,” kata Anang Zakaria yang sehari-hari bekerja di wilayah Yogyakarta. 

 

Meski demikian, Anang menyatakan, materi yang disampaikan masih kurang. Dia berharap mendapat paparan soal penggunaan aplikasi cuma-cuma untuk membersihkan data seperti Open Refine, Tableau untuk memvisualisasi data, serta aplikasi ‘penyedot’ data via internet seperti import.io. “Penasaran. Disinggung tapi gak dibahas,” tuturnya.  

 

Fauzan, 27 tahun, peserta dari Koran Sindo Jabar punya pandangan lain. Mantan guru sekolah dasar ini merasa pelatihan yang diikutinya sangat aplikatif. “Meningkatkan pemahaman wartawan mengenai data yang bisa bercerita, tergantung bagaimana menarasikannya,” terang Fauzan. 

 

Wahyu Dyatmika, pemateri dalam pelatihan tersebut, mengungkapkan pengolahan data dapat membantu jurnalis dalam mengungkap berbagai hal, terutama yang berkaitan dengan kepentingan publik. Analisa data bisa memberikan gambaran tentang hubungan, pola, sebaran, hingga perbandingan satu kondisi dan kondisi lainnya. “Yang paling penting, sudah tahu sejak awal apa yang mau dicari,” ujar Wahyu.  

 

Kegiatan pelatihan serupa berlangsung di Bojonegoro dan menyusul pekan depan di Ternate dan Medan. “Target kami ada 80 jurnalis yang mengikuti pelatihan ini,” ujar Eva Danayanti, Executive Director AJI Indonesia. 

 

 

 

Share