Cetak Trainer, Cara AJI Mendorong Jurnalis Berperspektif HAM
AJIINDONESIA, Bogor - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kembali mendorong peningkatan kapasitas dan perspektif jurnalis dalam meliput isu-isu HAM. Harapannya agar muncul peliputan isu HAM yang berkedalaman dan berdampak. Sebanyak delapan jurnalis dari empat kota, yaitu Jakarta, Bandung, Medan, dan Kediri, terpilih mengikuti Training of Trainer (TOT) Human Right Reporting selama Senin - Rabu, 10 - 12 Desember 2018 di Bogor, Jawa Barat . Kegiatan TOT ini merupakan bekerjasama AJI dengan UNESCO yang juga berkomitmen mendorong lahirnya trainer jurnalis di bidang HAM.
Ketua Umum AJI Abdul Manan mengatakan, isu-isu HAM berdimensi luas serta cakupan wilayah yang luas pula. Karena itu perlu mendorong perspektif yang baik bagi jurnalis dalam menguliti isu-isu HAM. AJI melalui TOT Human Right reporting ini juga berharap muncul trainer yang bisa memberi pelatihan-pelatihan bagi jurnalis lain terkait isu HAM.
“Materi yang dijabarkan oleh para trainer nantinya akan menjadi semacam kurikulum untuk peliputan isu-isu HAM. Begitu peserta selesai training, masuk dalam list trainer yang sewaktu waktu bisa diminta bantuannya untuk mengisi pelatihan isu-isu ham,” kata Abdul Manan dalam sambutannya membuka TOT.
Dia menambahkan, semangat dari TOT Human Right Reporting ialah mencetak para trainer. Sehingga metode yang diharapkan bagaimana melibatkan antara skill dan pengetahuan.
“Sebagian besar akan merefresh skill . semoga tiga hari ini berjalan dengan baik, dan setelah tot ini teman-teman semoga siap untuk semua acara aji yang berkaitan dengan isu HAM,” katanya.
Sementara itu Advisor for communications and Informations UNESCO, Ming Kuok Lim, menyambut baik inisiatif bersama AJI ini. Menurut dia, kegiatan ini akan mencari sumber daya yang bisa melatih jurnalis lain di masa mendatang. Dia mengatakan, pelatihan ini juga dalam rangka UNESCO meningkatkan jumlah trainernya di Indonesia yang bisa kami gunakan untuk masa mendatang.
“Kedua, yang kita diskusikan hari ini bagaimana kita juga butuh punya modul yang bisa kita gunakan utk masa mendatang. Dan topik HAM sangat sangat luas, sebagai mana kita ketahui,” katanya.
Isu Hak Asasi Manusia (HAM) yang komprehensif dan berkedalaman, diakui masih mendapat porsi yang kecil di ruang redaksi. Dia kalah bersaing oleh isu politik, ekonomi, kriminal, dan hiburan atau bahkan hardnews yang trending topic lainnya.
Kepentingan bisnis dan kebijakan redaksi memang faktor yang dominan membuat isu-isu HAM mendalam seakan terpinggirkan dari ruang redaksi. Namun, minimnya kapasitas dan perspektif, juga turut menyebabkan isu-isu HAM yang mendalam dan berdampak, sepi di tengah mainstream. Sementara ada banyak dimensi HAM yang luput untuk didalami.
“Agenda setting redaksi yang tercermin melalui kanal/rubrik, hampir tak menjadi rumah bagi isu-isu HAM,” kata Jurnalis dan Documentary Maker Dandhy Dwi Laksono.
Dandhy merupakan salah satu trainer TOT Human Right Reporting selama tiga hari ke depan. Seperti diketahui, Dandhy merupakan jurnalis AJI yang punya segudang pengalaman meliput isu-isu HAM. Karya-karyanya tersaji dalam produk dokumenter dengan beragam tema seperti hak atas sumber daya alam, kedaulatan pangan, perjuangan hak kelompok minoritas dan kaum yang termarginal oleh ekspansi investasi.
Selain Dandhy, materi ToT juga diisi oleh Direktur Eksekutif Amnesty Internasional, Usman Hamid. Aktivis HAM yang sudah malang melintang menggeluti isu HAM. Selain itu, trainer juga datang dari UNHCR.
- 9 kali dilihat






